Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2016

-

Alunan lembut mengiringi ketukan pelan yang tidak mungkin terdengar oleh siapapun kecuali si pengetuk tersebut. Tidak ada yang menyadari ketukannya. Alunan tersebut terlalu lembut hingga melenakan si pendengar. Malu. Itu yang dirasakan oleh pengetuk. Sedangkan seseorang di dalamnya hanya berharap ada yang mengetuk pintunya sementara dia tidak menajamkan telinganya. Ia terbuai dalam alunan dan secangkir kopi di meja. Dia duduk dengan memejamkan mata di depan tungku api.

Kepasrahan sudah menyelimuti seseorang di luar pintu. Kedinginan. Mengharapkan kehangatan seperti yang dirasakan orang di dalam ruangan, di balik pintu. Dia terus mengetuk pelan hingga ketukannya menjadi semakin lemah, bersama dengan tangannya yang memucat kedinginan. Berselimut kepasrahan, imajinasinya terus bergerak bebas membayangkan kebahagiaan jika ia terus mengetuk pintu. Ia merasa seperti gadis korek api. Sayangnya, ia bukanlah gadis korek api. Ia hanyalah seorang kedinginan yang sedang berusaha meruntuhkan harga dirinya.

Jumat, 30 Oktober 2015

Rainy Night Memories



Ketika cinta hampir menemukan jawabannya lewat tatapan mata dan kata-kata yang samar, khayalan selalu datang. Kita semua tahu, apa yang ada dalam khayalan tidak akan terjadi persis dan seringnya akan terjadi sebaliknya. Tapi tak apa. Berkhayal melakukan sesuatu yang menyenangkan bersamanya pun bisa membuat perut Elise dipenuhi kupu-kupu. Elise tidak tahu apakah ada rona merah di wajahnya. Hanya saja jawabannya sudah jelas pada tatapan matanya. Namun mereka sama-sama tidak bergerak. Sama-sama merasa kalau mereka berdua lebih baik diam. Parahnya lagi, sama-sama memilih untuk menunggu. Entahlah, menunggu apa.

            Saat itu jalanan sedang ramai di musim panas bulan Agustus ini. Elise hanya berjalan sendirian diantara kerumunan orang. Tidak ada yang dipikirkannya selain kilasan-kilasan memori saat ia melewati jalan yang sama, berjalan di bawah payung bersama Thomas di hari ulang tahunnya bulan Januari yang lalu, di jalanan yang sepi tersapu hujan di musim dingin, malam tidak terlalu gelap namun orang-orang lebih memilih untuk menghangatkan diri di dalam rumah mereka masing-masing, atau sekedar makan di dalam restoran yang hangat.
Tapi tidak dengan Elise. Ia sedang terburu-buru hingga tidak peduli hari hujan dan gerimis, tanpa payung, tanpa mantel ataupun jas hujan, dan kedinginan. Ia sendiri lupa dengan hari ulang tahunnya karena dia sudah sendirian terlalu lama dan terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Meskipun begitu, Elise menyukai seseorang, seseorang yang dia tidak pernah bisa membayangkan untuk bisa bersamanya. Hanya memandangnya dari jauh. Tapi tidak......
“Hai, kau mau kemana?” tiba-tiba sebuah payung ada di atasnya dan seorang laki-laki dengan postur tegap dan tinggi sudah ada di sampingnya, dan berbicara dengan hangat. Elise yang pemalu, tidak akan pernah berani menatap ke mata laki-laki tersebut. Ia hanya menoleh sebentar. Namun dia bisa merasakan mata laki-laki tersebut terus tertuju ke wajah Elise yang merah padam. “Aku terburu-buru ke teater,” Elise tetap berusaha ramah dan menatap lurus ke depan. “Kau mau ikut?” Elise mencoba berbasa-basi. “Ya, tentu saja. Aku juga ingin ke sana. Kebetulan bertemu kau. Aku sampai berlari untuk bisa mengejarmu. Jalanmu cepat sekali.” Goda lelaki tersebut. Tidak bisa dibayangkan betapa merah padamnya wajah Elise dan dingin seakan melukai kedua tangannya di malam ini. Dia hanya berbisik dalam hati betapa cerewetnya pria ini. Tidak seperti yang ia bayangkan selama ini. Pria tersebut juga sangat ceria, sangat bertolak belakang dengan Elise.
Sepanjang perjalanan, Elise hanya terdiam dan menjawab seadanya. Pria itu terus bercanda dan sesekali melihat ke wajah Elise, seakan memastikan, apakah Elise tersenyum mendengar candaan ringannya, atau...... lelaki itu hanya ingin melihat Elise saat tersenyum. Elise hanya berpikir, apa ini?
Akhirnya Thomas, lelaki tersebut, dan Elise berpisah karena Thomas bergabung teman-temannya yang tidak mengenal Elise. Dia lebih memilih duduk sendirian daripada bersama teman-teman Thomas. Banyak alasan untuk menolak bergabung.
Pertunjukan sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Elise terlambat beberapa menit dan melewatkan setengah pertunjukkan Vynn, sahabatnya. Tapi mata Elise masih mengikuti arah Thomas berada. Sialnya, ternyata Thomas juga memandang ke arah Elise setiap kali dia menatapnya. Selama ini Elise selalu menjaga perasaannya sendirian, tidak mau Thomas dan orang lain tahu tentang perasaannya karena Vynn sudah mendekati Thomas. Dan Elise mengetahui banyak hal tentang Thomas dari Vynn. Hingga pertunjukan berakhir, Elise masih tidak bisa melupakan kejadian tadi. Perasaan Elise tidak seperti saat ia tidak mengharapkan Thomas untuk di sisinya. Apakah?
Di dalam sebuah restoran yang hangat, Elise dan Vynn duduk bersama di dekat jendela dengan pemandangan jalanan basah dan sepi, hampir tidak ada orang yang lewat. “Terima kasih, kamu sudah datang. Aku sempat mencarimu, ternyata kau datang, tepat saat aku melihat Thomas juga,” wajah Vynn terlihat lebih ceria dari biasanya, mungkin karena dia tahu Thomas datang ke pertunjukan. “Aku sangat tidak menyangka Thomas mau datang melihatku di pertunjukan. Padahal kemarin dia mengatakan padaku dia tidak bisa datang. Kau yang ulang tahun, kenapa aku yang diberi kejutan?” Elise tertawa karena apa yang dibicarakan Vynn ada benarnya juga. Dia jadi ingat hari ini hari ulang tahunnya. Apa Thomas tahu hal itu?
“Kau ingin makan apa? Aku ingin membelikan sesuatu yang sahabatku inginkan di hari ulang tahunnya,” Elise tersentuh, dan tidak bisa memikirkan apapun selain Thomas dan tidak bisa mengatakan apa-apa, padahal yang dia inginkan saat ini adalah Thomas. “Tidak usah membelikanku apapun, aku hanya ingin kau tetap jadi sahabatku apapun yang terjadi,” Elise tersenyum hangat.
“Aku sudah menduga kau tidak ingin apapun,” Vynn tersenyum dan memanggil seseorang yang membawa kue ulang tahun. Jean, sahabat yang selama ini ada di Montreal, yang selalu Elise rindukan, kini ada di hadapannya. Elise sangat bahagia dan memeluk Jean erat. “Aku sengaja tidak menghubungimu supaya kau tahu rasanya merindukan seseorang,” tidak disadari air mata Elise tumpah. Bukan hanya karena bertemu Jean, tapi juga karena perasaannya. “Maaf aku terlalu sibuk,” Elise kembali ceria, karena hari ini adalah hari bahagianya.
Kini, di jalanan yang ramai tersebut, Elise masih mempertimbangkan banyak hal. Pikirannya beralih kepada Vynn yang sedang patah hati, karena Thomas dengan jujur mengatakan bahwa dia menyukai orang lain. Bukan hanya itu, Thomas juga mulai menjauhi Vynn. Elise yang masih tetap menyembunyikan perasaannya, tetap bertahan dan masih sering memandang Thomas dari jauh, meskipun kadang Thomas mencoba duduk disampingnya dan sering tersenyum setiap mengetahui Elise sedang memandangnya. Hanya saja Thomas tidak pernah mencoba mendekatinya. Thomas juga sepertinya bercerita pada Vynn dan teman-temannya yang lain tentang orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Elise yang bahkan Elise tidak tahu siapa orangnya dan membuatnya penasaran. Apakah Thomas hanya mengada-ada tentang orang tersebut untuk membuat Elise penasaran? Elise cepat-cepat menghilangkan pemikiran itu dari otaknya. Mungkin memang benar, siapapun orang itu, dia sangat beruntung.
Elise hanya berjalan dan tetap merasa bahagia dengan memori di malam saat hujan itu.


NP: Raindrops Keep Falling on My Head - B.J. Thomas
Sumber: google 

Sabtu, 06 Desember 2014

The Queen

Elsa sedang berada di dalam ruangan pelayan saat itu, tiba-tiba ada seorang pemuda dengan seragam prajuritnya yang menarik tangannya keras. Menunjukkan perilaku raja yang sedang duduk berdua bersama dengan salah seorang pelayan. Elsa yang melihat itu hanya diam saja. Dia tidak mau kalau prajurit itu tau kalau dia memang benar-benar jatuh hati pada raja. Dia hanya seorang putri dari sebuah kerajaan yang dijodohkan dengan seorang pangeran yang sekarang menjadi raja. Elsa tahu kalau raja tidak pernah benar-benar mencintai Elsa. Pernikahan mereka benar-benar dipaksakan.
"Sudah beberapa kali aku melihat raja seperti itu, bahkan dengan seorang gadis pemandu wisata, tuan putri."
"Aku tidak peduli. Aku tidak pernah peduli dengan raja, aku pikir semua orang tahu kalau raja tidak pernah mencintaiku dan peduli padaku, yang mereka tahu, akulah yang memaksa kedua orang tuaku agar dijodohkan dengan raja,"  Namun Elsa teringat saat raja melindunginya di sebuah hutan. Dia juga teringat saat raja menggenggam tangannya saat di pertemuan kerajaan. Elsa tahu kalau sang raja adalah sosok yang selalu dipuja banyak wanita, dan raja pun adalah seseorang yang terlalu rendah hati, Seperti seorang artis yang mempunyai banyak fans dan menghargai fansnya yang kebanyakan para wanita. Namun seharusnya para wanita itu sadar diri kalau raja sudah mempunyai istri. Mereka hanya mengira kalau perjodohan itu hanyalah sebuah paksaan dan tidak tahu kalau ratu mereka benar-benar jatuh cinta pada raja. 
"Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran raja, dia selalu berbaik hati pada wanita-wanita itu dan memberi harapan pada wanita-wanita itu." 
Pemuda tersebut hanya menatap sang ratu dengan tatapan sedih, meskipun sang ratu menutupi perasaannya, tersirat wajah kecemburuan pada sang ratu. Pemuda itu terluka melihat wanita yang dicintainya bersedih karena orang lain, dia hanya ingin tahu reaksi yang sebenarnya dari sang ratu. Ternyata sang ratu benar-benar mencintai raja. 
"Satu hal, kamu adalah satu-satunya orang di kerajaan ini yang tahu kalau aku tidak peduli pada raja, dan kenapa kamu selalu peduli padaku, sedangkan orang-orang tidak ada yang pernah peduli padaku."
"Maaf, tuan putri"
"Kenapa minta maaf? seharusnya aku yang berterima kasih."
"Ya, tuan putri."
Raja muda itu adalah raja Fritz, dia adalah raja yang tampan dan rendah hati, menurut kebanyakan wanita yang hatinya telah dibuat meleleh oleh sang raja.

"Hey, beautiful boy, bagaimana hari-harimu di istana? apakah kamu hanya berdiri mematung di gerbang dengan seragam prajurit besimu itu?"
"Tidak seperti itu."
"Lalu apa? ayolah, ambisimu untuk masuk istana sudah tercapai kan? hmm menurutku belum, bukankah kau ingin menjadi perdana menteri istana? atau kau ingin menjadi raja? sang ratu adalah orang yang cantik, aku akan merasa beruntung memilikinya, sekaligus menyesal karena kekonyolannya"
"Hey, berhenti menyebut sang ratu adalah orang yang konyol."
Mengapa tidak? menjadi raja lalu memiliki sang ratu. Aku tidak tahan melihat sang ratu terus bersedih. Sungguh impian yang tidak mungkin.
Akhirnya, Peter, pemuda tersebut mempunyai rencana agar bisa membuat raja turun takhta. Dia berusaha keras agar bisa menjadi seorang perdana menteri. Dia belajar, belajar, dan mempelajari peraturan-peraturan kerajaan. Dia akan menjadi seorang perdana menteri yang berpengaruh. Akhirnya datanglah saat-saat tersebut, setelah melalui masa-masa sulit, dimana dia harus bersabar terhadap cemoohan, akhirnya dia berhasil mencapai posisi tersebut. Sang ratu pun memberi selamat.
"Mungkin kau bisa menjadi perdana menteri atas kebaikanmu padaku." ratu berkata dengan ceria kepada Peter.
"Aku melakukan ini demi tuan putri."
"Apa? apa maksudmu?"
"Tidak, tuan putri, aku hanya termotivasi agar tuan putri tidak malu karena berteman dengan seorang prajurit. Akan lebih baik kalau aku menjadi perdana menteri."
"Hmm sebenarnya aku tidak malu, hanya kau saja yang berpikiran seperti itu."
Peter tersenyum atas kepolosan sang ratu.

Akhirnya pada suatu hari
"Apa yang kau lakukan? aku raja, aku yang berhak mengatur semuanya!" suara keras Fritz hampir mengagetkan semua yang ada di dalam ruangan.
"Tapi tuan, kami tidak bisa melawan kehendak rakyat yang sudah terlalu membenci tuan."
"Kenapa? aku memang tidak pernah membuat keputusan itu. Itulah kenyataannya. Apakah kebaikanku dibalas dengan perbuatan seperti ini."
"Kami sudah mengingatkan tuan untuk menjaga diri."

Tenyata, dulu ayah Elsa sudah tidak sanggup lagi menahan sakit yang sudah dideritanya bertahun-tahun, dan tidak mau Elsa hidup sendiri tanpa seseorang yang melindungi Elsa. Akhirnya, sang raja memohon kepada teman terbaiknya, sang raja di kerajaan Gyonia agar menikahkan anaknya dengan putri satu-satunya. Dia tidak peduli lagi siapapun yang akan memimpin kerajaannya. Akhirnya rakyat hanya mengira bahwa pangeran Fritz saat itu hanya terpaksa untuk menikahi putri Elsa dan marah kepada Elsa karena pangeran tampan nan rendah hati  mereka harus menikahi seorang putri yang memaksa.

Peter berkata pada Elsa "Kalau tuan putri tidak bahagia bersama raja, aku bisa membuat tuan putri bahagia,"
"Aku tidak mau, meskipun aku tidak peduli, aku tetap mau di samping raja," Elsa menangis.
“Tapi aku mencintai tuan putri, apakah tuan putri tidak menyadarinya?”
“Aku sudah merasakan itu, namun aku tidak bisa mencintaimu, Peter. Aku tidak mau mengalami nasib sama seperti aku mencintai raja.”
“Tapi aku sudah mengatakannya pada tuan putri sekarang. Tidak bisakah aku mendapatkan cinta itu?”
“Maafkan aku, terima kasih atas pengorbananmu. Tapi sebagai istri aku tetap harus berada di samping raja bagaimanapun keadaannya, walaupun harus menderita. Asalkan aku tetap bersamanya.”
Elsa pun meninggalkan Peter dengan kesedihannya.

“Elsa, jika aku sudah tidak menjadi raja, apakah kau tetap akan bersamaku?”
“Tentu, Fritz.”
“Kenapa kau tetap mau berada di sampingku? Bukankah kau terpaksa saat menikah denganku?”
“Aku tidak pernah menyesal karena menikah denganmu, aku pikir kau yang terpaksa menikah denganku, karena takut teman-teman wanitamu menjauhimu.”
“Aku menyesal telah berteman dengan mereka. Mereka menceritakan keadaan-keadaanmu yang membuatku malu jika di dekatmu dan mereka sekarang menjauhiku karena aku bukan anggota keluarga istana lagi. Aku pikir mereka adalah teman terbaikku karena kami bersahabat sejak kecil.”
“Sudah kuduga, aku adalah wanita konyol dan tidak pandai. Tapi tenanglah, selama ini aku sudah berusaha agar tidak terlihat konyol dan lebih pintar.”
Fritz tersenyum. “Jadi, ayo kita pergi dari kerajaan ini. Kita bisa hidup bahagia di rumah sederhana dan kau bebas melakukan hal sekonyol apapun karena sudah tidak ada yang akan memperhatikan kita.”
“Sebentar, aku ingin pamit kepada seseorang yang peduli padaku selama ini, dia temanku.” Elsa berlari meninggalkan Fritz.

Elsa menemui Peter di taman istana. Peter merasakan sesuatu yang salah pada pertemuan mereka kali ini.
“Peter, terima kasih untuk selama ini. Aku yakin kamu bisa menemukan wanita lain, karena posisimu saat ini. Sekarang aku berterima kasih kepadamu, karena usahamu, aku akan pergi jauh bersama Fritz, aku sangat mencintainya dan kami akan hidup di sebuah tempat yang jauh dari orang-orang di kerajaan ini.”
Elsa melanjutkan, “Aku akan selalu mencari kabarmu dan jika kau sudah menemukan cintamu selain aku, aku akan mengirim surat padamu dan mengunjungimu bersama Fritz. Selamat tinggal.”


Tanpa menunggu jawaban Peter, Elsa berlari lagi dan menghilang saat itu juga bersama Fritz. Peter tidak akan berusaha mengejar, karena orang yang dicintainya sudah bahagia. Tidak ada alasan lagi baginya. Dalam kesendirian, Peter menangis, tidak tahu apakah harus bersedih karena kehilangan orang yang dicintainya, atau bahagia karena Elsa telah bahagia bersama Fritz.

silly story: a bit inspired by K-Drama 'Princess Hours'