Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Desember 2019

Sepatu Jebol Naik Gunung Penanggungan

Makin kesini saya makin tidak percaya diri untuk menulis blog. Saya sampai browsing-browsing bagaimana tulisan orang-orang lain yang muncul di pencarian google tentang topik yang sama. Huee.

Kali ini saya mau nulis tentang perjalanan di gunung Penanggungan dan puncak Pawitra-nya di bulan-bulan awal 2019 ini.

Welcome to my post in the last month of the year 2019!

Mungkin saya akan menulis post lain tentang pendakian gunung Pundak atau Semeru cuma sampai Kalimati. Karena waktu-waktu yang lalu saya melakukan debut sebagai salah satu orang-orang yang camping di gunung-gunung yang sepertinya cocok untuk pemula seperti saya.

Penanggungan 16-17 Februari 2019

Awalnya kami merencanakan keberangkatan dengan 6 orang, lalu menyusut jadi 4 orang, dan berakhir pergi bertiga saja.

Dua cewek dan satu cowok pula. Nasib hidup kekurangan cowok.

Kami naik motor, saya membonceng. Ada yang sendirian tentunya. Masa cengluuu.

This should be a long post, but I'm gonna make it short.

Untuk jalur pendakian, setahu saya yang paling terkenal itu ya Tamiajeng dan Jolotundo. Tapi menurut saya yang ramai ya lewat Tamiajeng ini. Pemandangannya lebih bagus daripada lewat Jolotundo. Cuman yaa saya sempat penasaran gimana sih kalau lewat Jolotundo soalnya saya juga pengen lihat-lihat situs bersejarah yang bisa dijumpai kalau lewat Jolotundo.  Tapii kalau diantara semua anggota rombongan belum ada yang pernah lewat sini, alias tidak familiar dengan jalur ini,   via Jolotundo cukup tidak direkomendasikan. Karena pertimbangan keselamatan juga, akhirnya kami memilih jalur Tamiajeng.

Jalur ini cukup mudah dijangkau. Lewat UTC kampus UBAYA di Trawas. Bisa pake google maps juga.

Waktu itu Penanggungan ditutup mulai Januari karena cuaca buruk. Rencananya, kami berangkat seminggu sebelum tanggal yang disebut di atas. Seminggu sebelumnya, jalur pendakian baru dibuka. Kata orang di loket, kalau pas baru dibuka, itu masih sepi. Wah, andai saja.... Berandai lagi. Harga tiket, seingat saya 10 ribu. Dapat stiker buat kenang-kenangan. Kami sempat dibriefing petugas, kalau naik ke puncak Pawitra besok harinya, tolong waspada sama barang berharga dan bawang bawaan yang ditinggal di dalam tenda. Karena ada kejadian kehilangan barang waktu ditinggal muncak sama empunya. 

Hmmmm. Rasanya si gunung sudah tidak ada harga diri hingga ada orang berani mencuri.

Meskipun ramai mari kita tetap coba lihat sisi baiknya.. Kami cuma bertiga, sepi. Kalau ramai bakal ketemu banyak orang. Nggak sepi lagi. Waktu di pos 1, pos yang masih ada warung, kami bertemu bapak-bapak penunjuk jalan yang kami temui sebelum sampai di basecamp. Ternyata beliau pemilik warung gais. Lalu mengobrol agak lama. Ngalor ngidul nggak ingat waktu. Kami juga melihat ada rombongan pendaki yang kata bapak pemilik warung, masih SMP, laki-laki semua. Agak shock wkwk. Sudah dewasa rupanya ya rombongan remaja SMP yang waktu itu bertemu. Dah tua-tua mahasiswa malah masih kekanak-kanakan.

Sepanjang perjalanan menuju pos bayangan, kami bertemu macam-macam bentuk rombongan. Ada yang berempat, cewek-cowok cewek-cowok, berlima cowok semua ceweknya cuma satu, dan kami rombongan cewek dua cowok satu. Kebanyakan dari daerah Jawa Timur. Surabaya, Sidoarjo, ada yang dari Bojonegoro. Rata-rata naik sepeda motor.

Waktu di perjalanan hujan sedikit. Hampir sampai pos bayangan, jalanannya lumayan menantang karena perlu merangkak, buat saya pendaki pemula. Kemiringan mulai kejam. Plus, ada pemandangan lampu-lampu kota di bawah. Waktu itu, kami naik sekira jam 5 sore, masih agak padang cahayanya. Sampai puncak bayangan sekira jam 9 atau 10 seingat saya,

Setelah sampai di pos bayangan, kami kesusahan menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Ramai juga ternyata ya. 

Setelah nemu, kami segera mendirikan tenda dan memasak mie. Setelah itu langsung tidur karena capek. Disini lebih tenang daripada di gunung Pundak. Tidurpun lebih nyenyak. Mungkin orang-orang mengisi energi buat ke puncak Pawitra.

Pagi-pagi sekali, sempat melihat sunrise. Momen lumayan uwu.

Matahari terbit merah jambu, lalu jingga hingga berubah terang.


Pos bayangan dan pemandangan puncak pawitra

Sesudah sikat gigi dan berunding enaknya naik ke puncak atau tidak, saya bersikeras untuk naik, karena saya sudah pengen sejak dulu kala.

Selfish.

Kami muncak berdua, lalu bertiga, lalu berdua lagi. Karena masalah kaki. Sepertinya lumayan lama. Sampai teman saya yang berjanji menunggu di tengah-tengah perjalanan akhirnya kembali ke tenda. Muupin yaw T-T maklum saya pendaki lamban.

Trek berbatu. Kemiringan: sudut siku-siku 90 in my mind

Waktu muncak, saya hanya sangu kacang sukro sebungkus dan sebotol 1 liter di saku jaket. Sangu kamera saku, dan nggak bawa hp seingat saya. Belum makan nasi sudah harus memforsir tenaga.

Treknya nyebelin, sih. Berbatu, kemiringan kayak nggak miring. Nggak bisa pake sekadar dua kaki. Butuh tangan buat pegangan. Gak tau pengen lagi apa enggak buat ndaki-ndaki macam beginian. Lelah bang, puncak nggak kunjung terlihat. Hanya terlihat beberapa sampah plastik yang tidak dibawa turun oleh empunya. Sayangnya lagi, sepanjang perjalanan saya sempat menemukan sampah bungkus roko. Siapa lagi kalau bukan manusia tidak bertanggung jawab. Jadinya, merelakan sedikit tempat di saku jaket untuk memungut sebagian sampah yang sekiranya nggak menodai jaket saya. Terlihat juga batu-batu besar yang dicoret-coret.

Pemandangan gunung welirang - arjuno di puncak penanggungan

Eh..... itu, sampai juga di puncak.
Bahagia juga lho sampai puncak. Keinginan tercapai. Wuhu.
Kami pun selfie-selfie, foto-foto orang, wajah, sampai sepatu yang jebol. Yhaa.

Kaki-kaki pemilik sepatu jebol

Masalah datang waktu turun menuju camp puncak bayangan. Mungkin asam lambung sudah naik karena telat makan. Lalu masuk angin. Lemes banget rasanya. Jalan turun sangat pelan. Kepleset berkali-kali. Anxiety kumat wkk.... Rasanya pengen diseret aja. Kejadian di Semeru terulang kembali. Tapi beneran enak lho pas diseret wahahaha.
Kami baru sampai di puncak bayangan jam 10. Sudah agak panas. Lalu mengisi perut dengan makan roti bakar isi daging burger bernardi. Roti bakar pun terasa nikmat, buat teman-teman saya. Karena perut saya sedang tidak beres. Sesudah makan, kami segera beres-beres barang-barang, tutup tenda dan melanjutkan perjalanan menuju basecamp. Kira-kira jam 12 siang. Perjalanan terasa lambat karena saya memang berjalan sangat lambat. Lemas rasanya.

Sampai turun ke bawah, sepatu saya sudah jebol parah. Bukan sepatu gunung soalnya. Anu, sepatu  olahraga jaman sekolah yang masih muat. Gak layak pakai. Solnya, alasnya, lepas semua jadi 2 lapis. Akhirnya saya ganti sandal di warung pos 1 sambil menyeruput es nutrisari jeruk.

Sesudahnya, kami melanjutkan perjalanan lagi ke basecamp. Sesampainya di basecamp kira-kira jam 4 sore, sangat ramai dan ada akustikan juga. Di sana saya makan soto seharga 10 ribu an dan teh hangat. Cukup ampuh untuk menyembuhkan saya. Saya jadi bersemangat kembali. Sebelumnya, saya sempat menelan obat maag dan obat masuk angin waktu di puncak bayangan.

Untung saja setelah itu saya bisa melanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya membonceng naik motor. Waktu itu kami pulang jam 5 sore. Sudah petang. Hampir 24 jam menghabiskan waktu di gunung.

Meskipun sudah sempat sampai puncak penanggungan ini, pengen nyoba tek-tok sih. 
Semoga bisa di lain waktu ~


Kamis, 07 Januari 2016

Open Trip ke Banyuwangi: Kawah Ijen - Baluran

Haii, sambutan hangat dari saya  di post yang masih hangaat  hangat sehangat hawa di Surabaya yang selalu bikin keleuussss.

Kali ini saya ingin menceritakan perjalanan liburan saya bersama teman-teman seperjalanan Open Trip Ijen-Baluran yang masih hangat juga.

Jadi saya seperti pengembara. Kurang tidur, jarang tinggal di rumah rasanya. Banyak sekali rencana. Rencana jalan-jalan tentu termasuk di dalamnya. Seminggu lebih baru sampai di Surabaya setelah dari Bekasi mampir ke rumah om sama formasi keluarga lengkap (cuma 4 orang) naik kereta dan merasa seperti Harry Potter di kelas ekonomi, *tsahhh* pagi setelah tahun baru tanggal 1 Januari 2016 kemarin saya cus lagi ikutan open trip ke Banyuwangi bersama para chingu yang sama, yang suka jalan-jalan dari SMA, ehem ituloh yang semua dari kami rela bohong supaya bisa ke Bromo. Padahal masih ingusan juga, sampe kena tilang gara-gara gak punya SIM meski gak jadi. Terima kasih pada alamat yang tertera di STNK hahaha.

Padahal rencananya pengen ke Ranu Kumbolo tapi pada akhirnya tergiur ikutan Open Trip jiahh.

Meeting point ELF yang disediakan pengelola open trip ini adalah di Bungurasih. Kami ber-empat berangkat ke bungurasih dengan menumpang mobil Kiki yang diantar papanya. Enak banget sih, jadinya kan saya nggak perlu naik bis dari JMP  ke Bungurasih seperti rencana B jika papa Kiki gak bisa nganter. Setelah sampai, kami semua peserta Open Trip berasa kencan buta. Selama ini kami berkomunikasi sok akrab dan bercanda lewat jejaring sosial tanpa pernah ketemu langsung. Nggak kenal semua sama pesertanya. Mereka berasal dari latar yang berbeda-beda. Ada yang masih sekolah, kuliah diploma (mungkin hanya saya dan satu teman saya wkwk), S1, S2, sudah kerja, dan yang lain yang nggak saya ketahui. Bahkan tour leadernya juga masih mahasiswa semester 9. Setelah kami semua di-briefing oleh TL, kami berangkat lebih awal dari yang dijadwalkan, kira-kira pukul empat kurang seperempat. Ya, ini pertama kalinya kami ikut open trip. Banyak yang bilang kalau ikut open trip lebih mahal. Tapi kelebihannya, nggak ribet. Tinggal berangkat. Mereka semua yang urus. Cuman bawa perlengkapan pribadi yang diperlukan saja.

Perjalanan demi perjalanan kami lalui dengan ELF eksekutif isi 20 orang ini. Sampai di daerah Bangil, ELF yang kami tumpangi mogok. Kami peserta hanya turun dari ELF dan menunggu penyelesaian dari sopir, TL, dan koordinasi dari program ini. Kira-kira sejam kami menunggu, hingga maghrib.

ELF melaju, saya tidur, sampai dibangunkan teman saya untuk melihat PLTU di Paiton yang terkenal. Ternyata juga tidak jauh juga sampai di RM Utama Raya. Tunggu. Kami semua seketika bernostalgia jaman SMP masing-masing. Karena pada tur perpisahan ke Bali, sekolah kami berhenti di sini juga. 4,5 tahun yang lalu. Perubahan mencolok tentu bisa kami tangkap. Tempat ini semakin besar dan lengkap saja. Teman saya yang katanya lupa menjamak sholat isya senang karena lupa tadi saat sholat maghrib karena mushola untuk sholat di RM ini bagus hahahaha. Kalau saya memang tidak berniat menjamak karena tahu pasti akan berhenti lagi.

Berlanjutlah perjalanan kami setelah makan malam yang menurut saya so-so. Sudah kenyang, lanjut tidur. Nggak kerasa aja tiba-tiba sudah sampai di pos-pos menuju Ijen. Malem-malem dingin dan sepi....
Eh
Pas sampe di tempatnya
Berasa liat terminal
Nggak nyangka ternyata rame banget..
Tapi yaudahlah sih..

Yeheeeyy siap menuju Blue Fire yang katanya cuma ada 2 di dunia :D
Disana ada guide lagi, jadi di Ijen kami punya dua guide. Yang satu laki-laki yang startnya di Ijen, khusus Ijen, satunya lagi ya TL yang start dari Bungurasih tadi.
Kami dibriefing lagi dan berujung pada sewa masker seharga 25rb yang bayar di akhir. Katanya kalau nggak pakai masker nggak bisa liat blue fire dari dekat, minimal 100 m katanya. Takutnya ada bau belerang. Saya yang baru pertama kali naik gunung tentu saja menyewanya. Nah, teman saya yang pecinta alam nih, bimbang. Mau nyewa nggak yaaa.
Tapi kakak TL cewek bilang kalau ada bau belerang kami perlu jongkok karena biasanya bau belerang tidak menyentuh tanah setinggi 90 cm. Nada mereka serius. Sampai bilang, 'tahun kemarin ada juga yang mau ngeliat blue fire, nggak kuat bau belerang terus lemes dan dibawa ke rumah sakit, kira-kira ada 7 orang. Bikin nge-down. Ikutan nyewa deh si anak PA. Padahal kan maunya diantara kami berempat maunya gantian dan patungan biaya sewa masker. Tapi begitulah, jadinya kami semua nyewa juga.
Perjalanan menuju blue fire dimulai pukul 1 malam. Entah menurut pendengaran saya, jalur menuju ijen dibuka pukul 1 pagi. 
Pagi-pagi gelap dan dingin. Dengan senter kami berjalan berombongan 3 km jauhnya. Yah cuman 3 km sih. Tapi kerasa juga kok capeknya. Kalau nggak kuat bisa bilang ke teman lainnya biar ditunggu. Memang harus saling menunggu. Malam benar-benar gelap, dan peserta kan nggak tahu medan jalan. Kan serem. Yah meskipun rame juga sih. Jadi jalur ke kawah ijen itu tidak sesulit jalur pendakian gunung-gunung lain, karena memang seperti tempat wisata, kawah ijen ini sudah ramai dan ada banyak keluarga yang mengajak anaknya ke kawah ijen ini. Kuat sekali, dek! 1 km jalan landai, sisanya menanjak.

Setelah satu setengah jam, sampai juga kami di kawah ijen. Nggak bisa dilihat. Kan masih gelap. Tujuan kami adalah blue fire. Jadi kami turun kawah. Demi apa. Demi blue fire. Kami melewati jalanan berbatu dan rawan terpeleset. Karena gelap, kami tidak bisa melihat samping kiri kanan apakah jurang apakah apa. Kecuali kalau memang tebing bisa buat pegangan atau sandaran *eaaaa, nggak tahu. Kami hanya mengandalkan cahaya senter untuk melihat jalan mana yang bisa kami lewati. Hanya muat seorang pula, jadi kami berbaris. Kadang juga wisatawan harus mengalah pada pekerja tambang belerang yang lewat membawa batu belerang yang terlihat berat menaiki jalan bebatuan yang dibebankan pada bahu mereka. Saya sampai bersyukur, tas carier yang berat dibawakan oleh teman saya, botol aqua yang tadinya membebani tas juga dibawa oleh teman saya yang satunya. Saya hanya membawa senter dan berjalan paling belakang diantara kami berempat. Karena si guide dan rombongan lain sudah tidak terlihat lagi ujung hidungnya. Kami mencari jalan yang sekiranya dilewati banyak orang. Oh iya, ada rombongan dari kami yang tidak ikut turun ke kawah untuk melihat blue fire. Tapi meskipun merasa capek, saya merasa rugi bila tidak melihat blue fire secara langsung. Menakjubkan! Saya suka perjalanan tersebut. Masih jauh juga sih blue fire-nya. Rasanya capek, tapi ngerasa seru juga. Keinginanlah yang membawa saya kesana. Saya malah menikmati rasa letih dan pegal kaki saya demi pengalaman. Sampai dekat blue fire, saya tidak bisa menangkap momennya karena kemampuan dan kamera saya tidak mumpuni. Gelap gitu lho. Untung kami masih nutut untuk lihat blue firenya. Sekalian istirahat. ISTIRAHAT APA. Berdiam diri malah membuat tubuh semakin menggigil. Sifat saya yang nggak sabaran muncul gara-gara kedinginan. Saya sampai mengajak teman-teman saya yang juga merasa kedinginan naik ke atas tanpa menunggu rombongan dan TL. Nggak kuat dingin. Untung masih punya etika buat pamit duluan supaya nggak nyari. Jadilah kami memanggil-manggil gak jelas. Eh ternyata dua TL berada nggak jauh dari kami berlima. Berawal dari sanalah akhirnya TL menyuruh rombongan untuk foto bersama. Setelah itu barulah kami naik bersama-sama. Untung saja. Awalnya ngerasa serem juga, turun aja capek dan jauh, apalagi naik. Dan setelah beberapa saat kami naik, hari semakin terang. Jelas pula pemandangan indahnya. Nggak perlu senter lagi. Kami beberapa kali berhenti untuk berfoto karena pemandangannya memang bagus. Danau di Kawah Ijen yang hijau mulai terlihat. Blue Fire juga menghilang.

AAaaah rasanya perjalanan lebih ringan ketika pagi menjelang. Dingin yang menusuk semakin berkurang. Ada saatnya saya merasa lebih ringan saat naik jalanan berbatu daripada menuruninya. Apalagi saya sudah menyediakan diri saya membawa tas carier yang hanya berisi jas hujan milik empat orang yang tidak terpakai akhirnya, yang daritadi dibawa oleh teman saya si anak PA hehe. Rasanya ringan. Ya, Ringan. Sampai atas, kami di atas Kawah Ijen. Tidak seperti tadi, menuruni kawah. Di atas kawah ijen banyak orang. Wah, ramai sekali. Padahal di foto-foto yang tersebar di internet, terlihat sepi. Mungkin karena liburan kali ya. Liburan tahun baru. Setelah puas berfoto, dan foto bareng rombongan sambil megang banner dan ada tiga peserta tambahan (3 bule, satu berwajah kaukasian, satu bule timur tengah, satu lagi bule asia) tiba-tiba ikutan nimbrung foto bareng hahahaha. Mulailah kami menuruni bukit dan jalan yang tadi malam kami lewati. 3 km jauhnya. Kami berjalan sambil melihat pemandangan yang tidak bisa kami lihat pada hari gelap, dan berfoto-foto tentunya. Kami juga bisa melihat lautan dari atas, selat Bali dan kabupaten Banyuwangi.

Bagian paling nggak enak ya yang pas turun menuju pos ini. Rasanya tas carier di punggung semakin berat dan alih kekuasaan untuk membawa pun berpindah punggung. Rasanya lutut mau copot. Tumit sakit, telapak kaki sakit. Lha, semuanya bertumpu pada kaki. Apalagi kan pas turun menahan. Rasanya lebih baik berlari daripada berjalan. Tapi ya itu susahnya, kalau ada orang di depan susah mengerem karena jalanan yang menurun. Lagian enak jalan sih haha. Kiki yang berlari duluan. Yang tidak kuat bisa naik ojek yang diseret oleh penduduk lokal dengan biaya 200rb turun. 800rb PP. Mereka berteriak, "Gojek!" "Taksi" dan lain-lain. Buset dah, di gunung lengkap bener angkutan umumnya. Kalau saya sih pengennya ada lift atau eskalator aja wkwkwk. Eh jangan ding, ga asik dong ntar.

Sampai juga di pos terakhir yang ramai sekali ini. Sampai-sampai kamar mandi pun antri. Sayangnya pas kami kesana tidak ada air. Nah, setelah teman-teman saya selesai urusannya, airnya ngalir dan akhirnya ada air hahaha. Setelah itu, kami berempat bersama teman baru sesama peserta yang masih kelas 3 SMA mampir di sebuah warung untuk mengisi perut, dan minum teh. Tapi saya hanya minum teh saja padahal biasanya juga sarapan tapi.... males karena sudah dari semalem perut mules hmmm..
Setelah ditunggu-tunggu kok nggak ada orang orang peserta rombongan yang lewat di warung tempat kami singgah, kami menuju ELF akhirnya.
Ternyata mereka semua sudah menunggu. Hanya kami berlima.
Ngerasa gak enak sendiri hmmmm
Alhasil kami berlima merasa bersalah.
Ternyata belum sarapan semua.
Pokoknya sebisa mungkin gak boleh kami datang paling akhir buat masuk ELF.

Setelah melanjutkan perjalanan ke tempat makan, kami semua se-ELF tepar. Menikmati indahnya alam mimpi dan masih belum mandi semua.
Akhirnya kami sampai di rumah makan, dan tempatnyaaaaa membuat kami ingin ke Bali saja. Lha wong kami makan sambil ngeliat pemandangan pulau Bali, ditambah pelabuhan Ketapang memang tidak jauh dari sana. Mengintip sedikit ke bawah sudah bisa melihat jernihnya air laut Banyuwangi. Jadi ingat manusia ikan pas SMP.

Kami semua termasuk TL mandi di rumah makan tersebut. Karena memang banyak kamar mandi di sana. Seperti memang disiapkan begitu rupa hahaha.
Nah, ini tidak termasuk biaya open trip yang telah kami bayarkan sebelum hari keberangkatan. Kami semua serombongan patungan makan di sini.
Saya suka makan di sini sih. Lebih enak dari yang sudah termasuk 2x makan dari trip ini yang rasanya so-so.

Setelah makan, lanjut perjalanan ke Taman Nasional Baluran. Saya lanjut tidur. Sampai di pos depan Taman Nasional ini. Masih masuk lagi ternyata dan jauh lewat hutan yang nggak rindang dan sejuk sama sekali sampai saya tidur lagi hahaha. Kami mampir ke pantai Bama yang masih termasuk area taman nasional ini. Tidak ada yang spesial kecuali pemandangan yang bagus dan cuaca yang panas. pantai Bama juga ramai. Semua tempat wisata yang saya lihat di jejaring sosial yang kelihatannya sepi ternyata ramai juga. Ya, warga butuh hiburan saat liburan. Kami pulang lebih awal juga. Dan tidak melihat sunset juga di Baluran ini. Katanya mbak TL mau lihat sunset :( tapi nggak apa apa sih, kami semua juga ingin cepat-cepat pulang.

Alhamdulillah kami sampai di Bungurasih dengan selamat dan berpisah dengan teman-teman peserta yang lain. Juga tiba lebih maju dari yang ada di jadwal. Kami tiba kira kira pukul setengah duabelas malam dan dijemput oleh papa dan mamanya Kiki.

Saya tidak bisa tidur dalam mobil. Entah kenapa. Sudah kebanyakan tidur di ELP  sih hahahaha.


Sudah, sekian cerita saya kali ini :D


















Minggu, 14 Juni 2015

Madakaripura Waterfall

Here we go!

Let's check it out! The story I've promised to ya'll if you read the previous article in this blog. Yuk cussss. Cekidot. (come on, check it out)

Madakaripura Waterfall.

This waterfall is located in Lumbang, Probolinggo, East Java. I visited this place after I went to Bromo before. Such a delightful adventure. Being a liar 'Bocah Petualang' (Adventurer kid) for 2 days. Yeah, I was a rebellious kid for 2 days, because I lied to my parents to go to Bromo, by motorcycle. It was a dangerous thing I ever did (dangerous? proud about it?) and I felt guilty. I just thought it didn't matter because teenagers have a fearless soul.

It didn't take a long time from Bromo to this waterfall, by motorcycle.
The entrance is only IDR5,000 a person. If someone like a local guide took you to guide you through the waterfall, make sure that you know the price of their guide service. In my experience, they just looked like friendly people who didn't require a cost and didn't say anything about the cost. But in the end, you must pay an exact number amount of money for his/her guidance service without bargained. It because my friends and I were just a group of teenagers who could be easily fell to his mock. We're too fool to not checking the price. It was the second time we fell to the lies by a local guide on this trip. But that was much better than in Bromo. Maybe it was our karma (?) because we lied to our parents. So this was the second time we paid more expensive than the proper cost for a guide service. We couldn't bargain.

After taking a long walk time, we arrived at the waterfall. It's a peaceful place and scary at the moment. The guide said that we could scream out our hopes at this waterfall. Made no sense, huh. We passed rocks by rocks. Stepped into a sloping riverbank through the current of the river, and got wet. Like a rainy day, but it wasn't. It was a waterfall's dripping water. You couldn't shun from getting wet. That's why the guide suggested us to wear the raincoat. The importance is; if you brought a camera, you could bring out your waterproof for your camera nor your handphone. Make sure that you go to Madakaripura, not on a rainy day. This waterfall could be closed because it could be dangerous.

At the time I got there, circa 3 years ago, it was a quiet place. Not many tourists and the track was still difficult. The tourists were just 9 people (my friends, me, and a couple). 
I heard from my friend who just visited this place that the tracks are more accessible than 3 years ago. Such good news for you is all who want to visit this place.

Spamming pictures begins.. :D






My friend

*All pictures were taken by the guide

Rabu, 22 April 2015

Mt. Bromo, Indonesia



They Said, “It’s crazy and bizarre!”

Before, my friend has shared this at her blog: Link
However, I’m still gonna talk about my adventures in Bromo (with my version lol), one of the so many beautiful mountains in Indonesia. You will be stunned by panoramas in Bromo, and it will be one of your unforgettable adventures in your life. Especially if your experiences are unusual. You will see the adventure of 6 girls by motorcycle, how people stunned about them and thought of how crazy they were.  

I was amazed when they said, “We’re not going to Devi’s home in Malang anymore, we are gonna go to Bromo!” I couldn’t say anything except I was so happy and felt like I had lied to my parents about that. Yeah, we had had a plan that we’re gonna go to Malang by train, not Bromo by motorcycle, but that’s the story, aaand the journey began. We chose the track from Probolinggo. There was no problem except a little accident in the ascent of the road of Bromo. On the trip, there was little rain in the slope of the mountain on the way. For the trip to Bromo, we don't need to worry about being lost because there were many signs to reach Bromo along the road. All along the road, I stunned by the green terrace scenery, the best view of nature. On the way of the trip, we lost our friends in 1 motorcycle because her bike was a kind of old motorcycle. Then, when I saw two girls in Bromo, I thought that luckily we were, we found the girl who drove a motorcycle too. But, I realized that they were my lost friends, then we stop our motorcycle, put off our rainy coat, and took a picture!
Captured!

We arrived at dusk and hurried to find a rented house for prayer, because there was no mosque anymore. Most of Tengger people are Hinduism. We rented a house to sleep for a night and must wake up at 3 am to see the sunrise of Bromo. We’re all must pay 200 ribu rupiah for that, and that rented house was just circa 300 meters from the entrance of Bromo.
We woke up at 5 am, far from our expectation at 3 am, but it's okay to see the sunrise of Bromo. We took the dawn at Penanjakan 2
Here was the sunrise from Penanjakan 2


For so many people, it will be a better view if you look at the sunrise of Bromo from Penanjakan 1 on the Pasuruan track. Who cares.

After sunrise, we went to the savannah of Bromo, there was so much sand, black sand, a lot of sand! Like a desert, but it was not as hot as the desert. With the cold air, we drove our motorcycle through that sands. That made us sometimes slipped, yeah, there are a lot of sands in Bromo. We arrived in the grass field. The green hill in this place is like in the Teletubbies hills and area. 

Savannah of Bromo



After savannah, the next was the Bromo Crater. In Bromo crater, we could see Mount Batok, next to Mount Bromo. The good view from Bromo is Batok, be honest, I think.




But not at all, It's beautiful too ;)





The beautifulness of nature and I


Soo green!


After that, we packed our stuff at 9 am and went to Madakaripura Waterfall. Just circa 30 minutes, we arrived at Madakaripura. I will post about Madakaripura Waterfall, well, maybe in the next post. See you.

Selasa, 24 Februari 2015

Surabaya Heritage Track of Museum HoS

Hello everyone! I’m going to tell you about my visit to the Museum in Surabaya. Not really in the Museum, it’s about my trip by bus, bus from Museum House of Sampoerna in Surabaya. It’s a cigarette museum, and enjoy my travelling in my lovely city Surabaya ;)



I went to this museum to show my lovely friends this museum because they had never known anything about this museum and the important thing was to search for a nice spot of a nice picture haha. But unfortunately, I couldn’t enter this museum because I was just 17 to 18 years old for 5 days later at that time. We will be shown about the history of Sampoerna by this museum, maybe, because I’ve never entered this museum (for further more about this museum and what's inside you could see this: Link). My friends did. I just took for the Surabaya Heritage Track bus. This bus took me travelled around historical buildings in Surabaya. For you who likes a free charge service, it such a happy thing to travel without waste money ;D

Maybe that was my luck because I travelled this bus with a group of foreign tourists, such a nice trip and environment ;)
I chose the route schedule at 3 p.m; it's the last time of the bus to operate. I saw the bus schedule to operate in front of the museum. (I'm sorry I wasn't taking any picture of the schedule)
I’ll tell you the route of this bus below.

The first building we visited is the post office. This post office is one of the historical buildings in Surabaya. Once, this post office was a Train Station in colonial-era long time ago. I haven't known as well precisely, because I focused on my camera lol.

Inside the post office
Accidentally taking a pic of this mbak
Outside of the post office

From this post office, we took for a walk in the church. I’d never gone to the church before. But that time, I entered the church, and the guide said that this church was under construction. I had known from this that SMPN 2 Surabaya is in front of this church near the post office.

Under-construction Church


After that, we went to De Javasche Bank, a bank in the colonial era, but it’s not a bank anymore. It’s just a historic building, and that was the first money printing machine in this bank, and the guide told us about everything. From the very very secured money storage, money from times to times, and the history of this building.

Money bunker
That was a money bunker which I told you before, a very very secured money storage. With propeller protection from iron, iron bars, and yellow-coloured haha


Moneeyy


The first Indonesian money printing machine


This Javasche Bank is soo historical, you could see this history inside the building.

Inside De Javasche Bank





For a moment, I wish I could get a route with this bus to visit Hong Tiek Hian in Surabaya and entered this place because I wonder about what’s inside this Buddhist prayer place. I just need to see the route schedule in front of this museum door, haha. I’ve been here two times and have tried at least three routes of this bus but I have never entered this museum because I wasn’t 18 yet (Now I’m 18 ^^)

For the information, this museum required for 18+ years old visitors, maybe because it will show you everything about cigarettes and this founder museum. If you are haven’t 18 yet, you could enter this museum with your parents. When you came to this museum, you would felt the smell of tobacco everywhere filled the entire room...
Those who have ever entered this museum said that in this museum, we could see the workers of Sampoerna roled so many cigarettes. But now, the place of these workers not in this museum anymore, I haven't known exactly the current location.

If you are not with your parents, so many alternatives to take, you could take the bus tour -like me- go entered the gallery (the gallery is small), and the cafe. I’ve never entered this cafe because I’m afraid of the expensive cost and many foreign tourists in this cafe. Haha.
I met my friends after that bus trip in front of this museum and took so many pictures together.



That’s all my experience in this museum, I just want to share a little information about a good place in Surabaya. See you ;)





Selasa, 10 Februari 2015

Suroboyo Carnival Night Market: Art and Wax House

Wax house juga ada di Surabaya, lho. Tepatnya ada di dalam SCNM ini. Memang tidak seterkenal Museum Wax Madame Tussauds, tapi tetap menarik juga, sih, untuk dijadikan spot berfoto. Di dalamnya, bukan hanya ada patung lilin, tapi juga trick art. Okeh pertama kalinya saya masuk ke dalam SCNM dan benar-benar masuk dalam artian, beli tiket dan masuk pintu loket. Karena sebelumnya saya pernah kesini dan hanya berpuas diri dengan berfoto di depan pasar malam ini karena antre dan keterbatasan waktu. Eits, kenapa pasar malam? Menurut saya, saat pertama kali masuk di area Carnival ini, yang terlintas di benak saya adalah pasar malam yang sering ada di kampung dekat rumah saya hehe, mirip sih.


Tampilan depan SCNM (Suroboyo Carnival Night Market)

Berjalan lagi agak jauh, saya menemukan pemandangan yang bagus, mungkin saya yang berlebihan, tapi menurut saya, konsepnya hampir mirip sama taman hiburan yang ada di foto-foto orang-orang yang sedang liburan di taman hiburan di luar negeri.

Setelah melihat ada sesuatu yang menarik, teman saya yang pernah ke sini ternyata belum pernah tahu tentang ini, mungkin museum ini baru di buka. Masuk gratis. Temanya tentang Surabaya gitu. Saya tidak terlalu mengingat nama museumnya. Sayangnya, pencahayaan di museumnya membuat suasana menjadi seram. Apalagi bahan-bahan di museum ini seperti barang-barang rongsokan. Yang paling menarik dari museum ini adalah kata-kata khas Suroboyoan ini:



Dari kiri atas: Jancok kuping ta centelan!
Kiri bawah: Ndasmu penceng
Ga pateken!

Saya pergi bersama 2 orang sahabat saya waktu itu. Tujuannya tak lain tak bukan hanya ingin masuk ke Art & Wax House yang ada di dalam pasar malam ini, salah satu wahana di pasar malam gitu deh. Mereka berdua ini sudah pernah di pasar malam ini, sampai bosan katanya hihi cuman belum pernah masuk di museum tujuan kami. Mereka bosan, saya penasaran. Oh iya, harga tiket hari biasa untuk pintu masuk pasar malam ini 20.000 rupiah, untuk museumnya 25.000 rupiah. Semoga tidak terbalik, soalnya ingatan ini sudah mulai melupakan itu semua. Jadi totalnya 45.000 rupiah, sebelum kami ingin naik wahana yang mirip London's Eye di London yang besar itu, yang dalam sekali putaran membutuhkan waktu 30 menit. Saya lupa namanya kalau di bahasa Indonesiakan hehe. Pokoknya dalam bahasa sehari-hari saya sih ini namanya 'dermulen'. Disebut kincir angin? Mungkin bisa. Untuk naik wahana ini harus membayar 10.000 rupiah, sekali putaran, hanya beberapa menit yang sebentar, dan menurut saya terbayar dengan pemandangan kota Surabaya setelah sampai puncak.



Gemerlap lampu SCNM dari ketinggian

Benar juga, teman kuliah saya yang notabene anak kost kelihatan tidak bahagia saat menceritakan pengalamannya berkunjung di pasar malam ini. Mahal, kata dia.

Yang mengesankan, pada bagian belakang pasar malam ini, dekat rumah hantunya, lebih mirip taman dan kesan pasar malam lenyap seketika tergantikan kesan Taman Hiburan Remaja Surabaya, dan membuat saya bernostalgia.

Kembali ke Art & Wax House.



Papan petunjuk arah

Menyenangkan berkunjung ke museum ini, banyak spot menarik untuk berfoto dan tertawa bersama. Bagaimana tidak, berfoto di sini harus mengorbankan harga diri demi sebuah kreativitas hahaha. Mulai dari tiduran, telentang, jungkir walik, ekspresi aneh, sampai yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Untung saja, saat kami berkunjung, sedang sepi. Serasa museum milik kami bertiga. Rasa malu kami bertiga pun hanya disaksikan oleh yang bisa melihat keadaan di sana saja. 


Pertama masuk museum, kami langsung disuguhi lukisan tiga dimensi anak tangga di tembok. Sayangnya, kami gagal mendapat foto yang terlihat 'nyata'. Kemudian ada semacam patung kakek yang terperangkap dalam tong. Kalian bisa 'say hi' dengan kakeknya loh! hahaha. Yah di dekatnya banyak berjejer bingkai lukisan (lagi). Kemudian masuk semakin ke dalam, ada lukisan ular 3D, lalu kursi 'ajaib' di atas awan yang semula, sebelum saya tahu langsung, saya kira orang-orang dalam foto itu mengedit foto mereka. Ternyata sangat sederhana. Kalian tinggal duduk, lalu seakan melayang. Ternyata ini semua ada di sini. Saya kira dulu mereka foto di studio foto juga, sih. Kemudian ada lukisan panda dan ular yang sangat besar di tembok. Teman saya langsung bersemangat sama panda nya. Hitung-hitung dia mengenang masa lalu lah wkwk. Kemudian lukisan ular. Cuma lukisan ular, apalah, saya tidak takut sama sekali malah saya ajak selfie.. Masih lebih menakutkan ular yang ada di film barbie putri duyung. Tapi kasihan juga yang ofidiofobia.. 


Masuk lagi semakin ke dalam lebih dalam.. Saya menemukan 'para perenang', gorilla, gajah, toilet berdiri, jurang, dan lain-lain. Ke dalam lagi, saya sempat merasakan sensasi diselamatkan dari ketinggian, Venice, tinju, dan suasana (sedikit) Hollywood. Ada bintang MU lengkap sama kostumnya kalau saya salah atau lupa hahaha. Saya juga bertemu patung-patung lilin mulai dari Chaplin, Einstein, Bruce Lee, Mr. Beans, Zombie(?), dan lain-lain.


Patung lilinnya memang tidak seberapa banyak, sih, tapi okelah.
Saat semua spot yang menarik dirasa sudah terambil dalam foto, kami sudah menemukan pintu keluar museumnya saja. Kok sedikit sih? Itu yang kami bertiga keluhkan, karena tidak sesuai dengan ekspektasi haha, hingga akhirnya mencoba lagi kembali untuk mencari spot menarik kembali dan menemukan pengunjung museum mulai berdatangan. Hingga bosan. Lalu keluar dan teman-teman mengajak saya yang belum pernah ke carnival ini untuk melihat-lihat. Mereka sudah bosan haha. Mereka berjalan menemani saja, aku yang melihat-lihat dan mendengarkan pengalaman mereka sebelumnya yang pernah kesini bak pemandu carnival ini hehe.

Sudah puas berlajan-jalannya, berhubung semakin malam, kami yang berencana untuk ke mie akhirat jika waktunya memungkinkan, langsung pulang ke rumah masing-masing.

Art and Wax House




Ampun makk jangan cubit aku

Gimme more please!

Einstein


Catatan penulis: Informasi ini sudah lama. Sudah lama saya nggak kesana. Setahu saya ada perubahan harga dan lain-lainnya. Link update SCNM