Senin, 09 Desember 2019

Sepatu Jebol Naik Gunung Penanggungan

Makin kesini saya makin tidak percaya diri untuk menulis blog. Saya sampai browsing-browsing bagaimana tulisan orang-orang lain yang muncul di pencarian google tentang topik yang sama. Huee.

Kali ini saya mau nulis tentang perjalanan di gunung Penanggungan dan puncak Pawitra-nya di bulan-bulan awal 2019 ini.

Welcome to my post in the last month of the year 2019!

Mungkin saya akan menulis post lain tentang pendakian gunung Pundak atau Semeru cuma sampai Kalimati. Karena waktu-waktu yang lalu saya melakukan debut sebagai salah satu orang-orang yang camping di gunung-gunung yang sepertinya cocok untuk pemula seperti saya.

Penanggungan 16-17 Februari 2019

Awalnya kami merencanakan keberangkatan dengan 6 orang, lalu menyusut jadi 4 orang, dan berakhir pergi bertiga saja.

Dua cewek dan satu cowok pula. Nasib hidup kekurangan cowok.

Kami naik motor, saya membonceng. Ada yang sendirian tentunya. Masa cengluuu.

This should be a long post, but I'm gonna make it short.

Untuk jalur pendakian, setahu saya yang paling terkenal itu ya Tamiajeng dan Jolotundo. Tapi menurut saya yang ramai ya lewat Tamiajeng ini. Pemandangannya lebih bagus daripada lewat Jolotundo. Cuman yaa saya sempat penasaran gimana sih kalau lewat Jolotundo soalnya saya juga pengen lihat-lihat situs bersejarah yang bisa dijumpai kalau lewat Jolotundo.  Tapii kalau diantara semua anggota rombongan belum ada yang pernah lewat sini, alias tidak familiar dengan jalur ini,   via Jolotundo cukup tidak direkomendasikan. Karena pertimbangan keselamatan juga, akhirnya kami memilih jalur Tamiajeng.

Jalur ini cukup mudah dijangkau. Lewat UTC kampus UBAYA di Trawas. Bisa pake google maps juga.

Waktu itu Penanggungan ditutup mulai Januari karena cuaca buruk. Rencananya, kami berangkat seminggu sebelum tanggal yang disebut di atas. Seminggu sebelumnya, jalur pendakian baru dibuka. Kata orang di loket, kalau pas baru dibuka, itu masih sepi. Wah, andai saja.... Berandai lagi. Harga tiket, seingat saya 10 ribu. Dapat stiker buat kenang-kenangan. Kami sempat dibriefing petugas, kalau naik ke puncak Pawitra besok harinya, tolong waspada sama barang berharga dan bawang bawaan yang ditinggal di dalam tenda. Karena ada kejadian kehilangan barang waktu ditinggal muncak sama empunya. 

Hmmmm. Rasanya si gunung sudah tidak ada harga diri hingga ada orang berani mencuri.

Meskipun ramai mari kita tetap coba lihat sisi baiknya.. Kami cuma bertiga, sepi. Kalau ramai bakal ketemu banyak orang. Nggak sepi lagi. Waktu di pos 1, pos yang masih ada warung, kami bertemu bapak-bapak penunjuk jalan yang kami temui sebelum sampai di basecamp. Ternyata beliau pemilik warung gais. Lalu mengobrol agak lama. Ngalor ngidul nggak ingat waktu. Kami juga melihat ada rombongan pendaki yang kata bapak pemilik warung, masih SMP, laki-laki semua. Agak shock wkwk. Sudah dewasa rupanya ya rombongan remaja SMP yang waktu itu bertemu. Dah tua-tua mahasiswa malah masih kekanak-kanakan.

Sepanjang perjalanan menuju pos bayangan, kami bertemu macam-macam bentuk rombongan. Ada yang berempat, cewek-cowok cewek-cowok, berlima cowok semua ceweknya cuma satu, dan kami rombongan cewek dua cowok satu. Kebanyakan dari daerah Jawa Timur. Surabaya, Sidoarjo, ada yang dari Bojonegoro. Rata-rata naik sepeda motor.

Waktu di perjalanan hujan sedikit. Hampir sampai pos bayangan, jalanannya lumayan menantang karena perlu merangkak, buat saya pendaki pemula. Kemiringan mulai kejam. Plus, ada pemandangan lampu-lampu kota di bawah. Waktu itu, kami naik sekira jam 5 sore, masih agak padang cahayanya. Sampai puncak bayangan sekira jam 9 atau 10 seingat saya,

Setelah sampai di pos bayangan, kami kesusahan menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Ramai juga ternyata ya. 

Setelah nemu, kami segera mendirikan tenda dan memasak mie. Setelah itu langsung tidur karena capek. Disini lebih tenang daripada di gunung Pundak. Tidurpun lebih nyenyak. Mungkin orang-orang mengisi energi buat ke puncak Pawitra.

Pagi-pagi sekali, sempat melihat sunrise. Momen lumayan uwu.

Matahari terbit merah jambu, lalu jingga hingga berubah terang.


Pos bayangan dan pemandangan puncak pawitra

Sesudah sikat gigi dan berunding enaknya naik ke puncak atau tidak, saya bersikeras untuk naik, karena saya sudah pengen sejak dulu kala.

Selfish.

Kami muncak berdua, lalu bertiga, lalu berdua lagi. Karena masalah kaki. Sepertinya lumayan lama. Sampai teman saya yang berjanji menunggu di tengah-tengah perjalanan akhirnya kembali ke tenda. Muupin yaw T-T maklum saya pendaki lamban.

Trek berbatu. Kemiringan: sudut siku-siku 90 in my mind

Waktu muncak, saya hanya sangu kacang sukro sebungkus dan sebotol 1 liter di saku jaket. Sangu kamera saku, dan nggak bawa hp seingat saya. Belum makan nasi sudah harus memforsir tenaga.

Treknya nyebelin, sih. Berbatu, kemiringan kayak nggak miring. Nggak bisa pake sekadar dua kaki. Butuh tangan buat pegangan. Gak tau pengen lagi apa enggak buat ndaki-ndaki macam beginian. Lelah bang, puncak nggak kunjung terlihat. Hanya terlihat beberapa sampah plastik yang tidak dibawa turun oleh empunya. Sayangnya lagi, sepanjang perjalanan saya sempat menemukan sampah bungkus roko. Siapa lagi kalau bukan manusia tidak bertanggung jawab. Jadinya, merelakan sedikit tempat di saku jaket untuk memungut sebagian sampah yang sekiranya nggak menodai jaket saya. Terlihat juga batu-batu besar yang dicoret-coret.

Pemandangan gunung welirang - arjuno di puncak penanggungan

Eh..... itu, sampai juga di puncak.
Bahagia juga lho sampai puncak. Keinginan tercapai. Wuhu.
Kami pun selfie-selfie, foto-foto orang, wajah, sampai sepatu yang jebol. Yhaa.

Kaki-kaki pemilik sepatu jebol

Masalah datang waktu turun menuju camp puncak bayangan. Mungkin asam lambung sudah naik karena telat makan. Lalu masuk angin. Lemes banget rasanya. Jalan turun sangat pelan. Kepleset berkali-kali. Anxiety kumat wkk.... Rasanya pengen diseret aja. Kejadian di Semeru terulang kembali. Tapi beneran enak lho pas diseret wahahaha.
Kami baru sampai di puncak bayangan jam 10. Sudah agak panas. Lalu mengisi perut dengan makan roti bakar isi daging burger bernardi. Roti bakar pun terasa nikmat, buat teman-teman saya. Karena perut saya sedang tidak beres. Sesudah makan, kami segera beres-beres barang-barang, tutup tenda dan melanjutkan perjalanan menuju basecamp. Kira-kira jam 12 siang. Perjalanan terasa lambat karena saya memang berjalan sangat lambat. Lemas rasanya.

Sampai turun ke bawah, sepatu saya sudah jebol parah. Bukan sepatu gunung soalnya. Anu, sepatu  olahraga jaman sekolah yang masih muat. Gak layak pakai. Solnya, alasnya, lepas semua jadi 2 lapis. Akhirnya saya ganti sandal di warung pos 1 sambil menyeruput es nutrisari jeruk.

Sesudahnya, kami melanjutkan perjalanan lagi ke basecamp. Sesampainya di basecamp kira-kira jam 4 sore, sangat ramai dan ada akustikan juga. Di sana saya makan soto seharga 10 ribu an dan teh hangat. Cukup ampuh untuk menyembuhkan saya. Saya jadi bersemangat kembali. Sebelumnya, saya sempat menelan obat maag dan obat masuk angin waktu di puncak bayangan.

Untung saja setelah itu saya bisa melanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya membonceng naik motor. Waktu itu kami pulang jam 5 sore. Sudah petang. Hampir 24 jam menghabiskan waktu di gunung.

Meskipun sudah sempat sampai puncak penanggungan ini, pengen nyoba tek-tok sih. 
Semoga bisa di lain waktu ~


Minggu, 18 Desember 2016

Pengalaman ke SCNM Bersama Exchange Students UNAIR

[Update an post Art and Wax House yang pernah saya unggah beberapa tahun yang lalu]
Sebenarnya ingin beri judul Suroboyo Carnival Night Market (SCNM) Kali Kedua pada yang bedaaa.


Yup! Saya kesini lagi hari Jumat tanggal 30 September 2016 bersama buddies-buddies saya yang berasal dari Malaysia. Mereka kebetulan adalah Exchange Students program AMERTA UNAIR. Saya adalah peserta program Best Buddies IOP UNAIR yang seharusnya 'offer' 'hospitality' pada mereka supaya mereka bisa punya pengalaman yang menyenangkan selama kuliah di Universitas Airlangga, tapi rasanya saya pesimis (pesimis rahasia). Awalnya 'awang-awang' mau kesana karena lupa kalau ada kelas sore hikz tapi kepalang sudah janji, saya tetap datang ke SCNM setelah kelas selesai dengan mengendarai sepeda motor sendirian,—ditengah kemacetan lalu lalang kendaraan arus pulang kerja—sedangkan yang lain naik taksi uber bersama-sama. Sempat saya mengajak salah satu teman saya dan dia tertarik ikut tapi dia menolak untuk ikut dengan pertimbangan nggak punya uang kecuali saya traktir penuh tiket masuknya (nggggg).

Sesampainya disana, nggak nyangka ternyata dua teman saya sesama best buddies dari UNAIR dan empat orang buddies keturunan India dari Malaysia (bingung kan kamu)
masih di depan penjual karcis. Mereka juga kaget saya datang secepat itu. Padahal saya sebelum berangkat ke SCNM ini sempat mampir ke kos teman di daerah dekat Unair kampus B buat merayu rayu dan nunut salat maghrib. Saya ke SCNM nggak ngebut sumpah.  Hehe biasalah naik motor kan lebih cepet. Buddies saya naik taksi Uber. Tiket masuknya sekarang terusan. Kalau kesini cuman buat foto-foto rugi bangat. Di sini nggak cuman terusan, ada wahana yang harus bayar lagi. Nggak banyak kok, cuma 5 wahana. Tiket masuknya untuk hari Jumat-Minggu itu 80.000 rupiah. Itu berarti sisa hari selain hari hari tersebut diatas tiket masuknya 60.000 rupiah.


Jujugan pertama selalu Museum Suroboyo hehe karena memang tempatnya di depan sendiri. Ini museum sudah saya ceritakan di artikel saya yang pertama kali masuk SCNM. Percayalah, saya menemukan hal yang menarik di Museum Suroboyo setelah mengintip-intip dan memutar-mutar. Maaf sekali, saya nggak sempat memfoto yang dintip dan diputar-putar. Pokoknya ada di sebuah ruangan di dalam Museum Suroboyo yang sepi ini. Sepi tapi sarat kata-kata khas Suroboyoan termasuk yang misuh-misuh. Paling favorit lah bagian yang tulisan misuh-misuh di museum ini. Setelah foto bersama ‘bu Risma’, saya sempatkan menonton teve layar hitam tapi bercahaya biru sebentar saja. Kemudian kami semua berpindah spot. Yeeeee nemu komedi putar yang isinya kuda kuda. Jelas lah, naik komidi putar. Bagus juga buat background foto, nggak ketinggalan, kami ber-selfie!
Jangan tanya ini background selfie nya apa, suka sama filter kameranya wkwk
Nemu dermulen, ini nih yang paling sering jadi spot background selfie orang-orang. Nggak ketinggalan lagi, kami ber-selfie! Rame-rame!

Dulu pertama kali naik ini disini, saya harus membayar dulu untuk sekali putaran. Sekarang mau sampai sepuluh kali putaran ya gratis. Menikmati pemandangan secuil kota Surabaya. Cuma dicuil. Soalnya rumah saya yang nun jauh sejam dari sini nggak kelihatan. Sama sekali. Setelah naik dermulen, buddies saya ini aneh-aneh maunya. Mereka pengen naik wahana paling ekstrim di taman bermain ini. Seumur-umur, bisa dihitung dengan jari berapa kali saya naik wahana ekstrim. Untuk yang paling ekstrim se-taman hiburan. Hoho, saya selalu menolak. Tapi karena semua naik, saya tidak mau sendirian. Jadi ikut naik. Nggak peduli, nggak mau lepas sepatu, nggak mau lepas kacamata. Cuma saya taruh handphone saja di dalam tas yang dititipkan ke masnya supaya aman nggak jatuh. Jangan handphone, please. Handphone pertama yang dibelikan sama Ibuk.
Kalian tahu bagaimana rasanya? Mau mati! Tapi saya senang karena bisa berjerit-jerit saking takutnya. Lupa ya sama tugas kuliah hehe. Mbak-mbak di sebelah kiri saya ayem-ayem saja. Heuh. Kata dia, sudah berkali-kali ingin naik ini wahana tapi ditolak karena hanya dia seorang, teman-temannya tidak mau ikut. Terhitung sepi lho taman bermain ini. Akhirnya keinginan mbak-mbak disebelah saya tersampaikan setelah saya dan buddies saya datang mengabulkan keinginan dia. Rasanya lama sekali. Padahal masnya tadi janji hanya sebentar. Tapi ternyata lama. Berasa lagu.

Oh, ini toh 'Blue Shake' yang katanya wahana paling ekstrim se-SCNM

Nggak cukup di ‘Blue Shake! Wahana ter-ekstrim di taman bermain ini’ teman-teman saya langsung mengarah ke wahana permainan berputar-putar sambil tengkurap. Saya lupa nama wahana permainannya. Saya nggak ikut naik. Ikut melihat saja. Eh ternyata mbak-mbak disebelah saya tadi minta tolong saya jadi objek diam untuk tugas kuliah dia katanya. Jadi saya yang diam, wahana yang saya lihat bergerak. Saya bukan yang diam benar-benar diam seperti dalam ‘Mannequin Challenge’ yang sedang popular belakangan ini, saya malah kepo dan dikepoin kuliah dimana sama masnya yang jaga wahana berputar-putar sambil tengkurap ini (bukan dalam konteks digodain, masnya tanya dengan nada sopan dan bersahabat.) Gimana ya dia bisa dapat kerja disini, apa ada part time ya? Pffft saya butuh pengalaman kerja, dan uang wkwk.
Akhirnya buddies saya yang lain datang menyusul. Semua wahana kami coba. Bahkan saya ikut masuk ke rumah hantu lhoh, biasanya nggak mau (penakut ya, ternyata Katsu sama seperti saya takut masuk rumah hantu sama wahana ekstrim tapi dia lebih berani). Awalnya saya takut, tapi ternyata nggak seram :D karena buddies saya dari Malaysia malah ngelawak di dalam rumah hantu ini. Sudah terbiasa tinggal di rumah hantu kali. 
Sesi foto bersama sebelum masuk rumah hantu


Setelah di rumah hantu, kami menunggu untuk bioskop 360 dibuka. Eh, ada parade! Baru tahu di SCNM ini ada  parade. Pertama masuk bioskop 360, kita akan disambut green screen dan disuruh bergaya sembarang di depan kamera dengan properti yang ada kalau mau. Excited sekali! Berasa artis hollywood dan berharap ada special effect huahahaha. Bioskop 360 ini ceritanya tentang arek Suroboyo. Saya nggak paham sama ceritanya. Skip skip tapi nggak bisa. Bagian akhir, bisa dilihat wajah-wajah berwarna abu-abu yang tadi direkam di ruang green screen. Intinya, jangan berharap banyak kalau kalian nggak di hollywood ya guys!
Setelah bioskop 360, sempat diri ini inginkan naik go-kart. Apadaya go-kart berbayar. Melihat peta, kami tertarik nonton bioskop 4D! Jangan harap ada adegan-adegan atau aktor. Hanya naik kereta naik turun, kursi gerak-gerak, goyang, naik turun, masuk hutan, kecipratan air. Dang. Selesai.
Jujugan paling terakhir kami adalah Museum Art and Wax House, waktunya mengekspresikan jiwa narsis yang terpendam. Semua wahana yang kami masuki gratis semua ya, bukan gratis, tapi sudah termasuk yang bayar lapan puluh ribu di loket. Sudah saya ceritakan ya semua isi wax housenya. Setelah puas berfoto-foto sampai baterai handphone saya habis dan mati lalu nunut foto pakai handphone mbak Nanie - salah satu buddies dari Malaysia, kami langsung pergi mencari makan. Saya nggak mau makan. Ternyata banyak warung di SCNM sudah tutup semua. Sudah larut malam hiks. Untung sudah ijin kalau pulang malam. Ada satu yang masih buka. Serbuuu. Duduklah kami di meja, orang-orang makan, saya langsung menaruh kepala dan tidur sebelum perjalanan jauh tengah malam..
Entah ada acara apa, orang-orang ganteng bule yang tadi kami temui ada di atas panggung seperti panggung Miss-miss atau Duta-duta itu. Ada acara begituan tapi tetep sepi di hari Jumat saat itu. Ramai mas-mas yang lomba itu sih. Sebelum pulang sempat kami ingin bermain wahana panah, tapi belum masuk, sudah dimatikan lampu di wahananya. Sedih wakaka.

Akhirnya kami semua pulang, gils banget main di taman bermain dari habis maghrib jam setengah enam-an sampai taman bermain nyaris tutup di jam 11 malam an. Nggak terasa sama sekali kalau semua wahana dicoba hmmm. Tapi overall menghabiskan waktu bersama Nada, Okta, buddies dari Malaysia Kashtury alias Katsu, Mas Amirul, Mbak Nanie, Mas Zul, Shaktisha, Tushra, Niva adalah waktu yang berharga untuk seukuran buddy seperti saya yang jarang ngajak main bersama. Menyenangkan lah pokoknya. Fun experience with UNAIR banget. Seru begitu ya apalagi pas naik wahana. Takut juga pulang malam sendirian naik motor perjalanan jauh, tapi untung saja Okta mau menemani sampai daerah kampus (yaiyalah dia kos dekat kampus). Jadi separuh jalan sendirian. Sendirian saya akhiri artikel ini. Sampai jumpa di artikel selanjutnya ya~

Selasa, 12 April 2016

-

Alunan lembut mengiringi ketukan pelan yang tidak mungkin terdengar oleh siapapun kecuali si pengetuk tersebut. Tidak ada yang menyadari ketukannya. Alunan tersebut terlalu lembut hingga melenakan si pendengar. Malu. Itu yang dirasakan oleh pengetuk. Sedangkan seseorang di dalamnya hanya berharap ada yang mengetuk pintunya sementara dia tidak menajamkan telinganya. Ia terbuai dalam alunan dan secangkir kopi di meja. Dia duduk dengan memejamkan mata di depan tungku api.

Kepasrahan sudah menyelimuti seseorang di luar pintu. Kedinginan. Mengharapkan kehangatan seperti yang dirasakan orang di dalam ruangan, di balik pintu. Dia terus mengetuk pelan hingga ketukannya menjadi semakin lemah, bersama dengan tangannya yang memucat kedinginan. Berselimut kepasrahan, imajinasinya terus bergerak bebas membayangkan kebahagiaan jika ia terus mengetuk pintu. Ia merasa seperti gadis korek api. Sayangnya, ia bukanlah gadis korek api. Ia hanyalah seorang kedinginan yang sedang berusaha meruntuhkan harga dirinya.

Kamis, 07 Januari 2016

Open Trip ke Banyuwangi: Kawah Ijen - Baluran

Haii, sambutan hangat dari saya  di post yang masih hangaat  hangat sehangat hawa di Surabaya yang selalu bikin keleuussss.

Kali ini saya ingin menceritakan perjalanan liburan saya bersama teman-teman seperjalanan Open Trip Ijen-Baluran yang masih hangat juga.

Jadi saya seperti pengembara. Kurang tidur, jarang tinggal di rumah rasanya. Banyak sekali rencana. Rencana jalan-jalan tentu termasuk di dalamnya. Seminggu lebih baru sampai di Surabaya setelah dari Bekasi mampir ke rumah om sama formasi keluarga lengkap (cuma 4 orang) naik kereta dan merasa seperti Harry Potter di kelas ekonomi, *tsahhh* pagi setelah tahun baru tanggal 1 Januari 2016 kemarin saya cus lagi ikutan open trip ke Banyuwangi bersama para chingu yang sama, yang suka jalan-jalan dari SMA, ehem ituloh yang semua dari kami rela bohong supaya bisa ke Bromo. Padahal masih ingusan juga, sampe kena tilang gara-gara gak punya SIM meski gak jadi. Terima kasih pada alamat yang tertera di STNK hahaha.

Padahal rencananya pengen ke Ranu Kumbolo tapi pada akhirnya tergiur ikutan Open Trip jiahh.

Meeting point ELF yang disediakan pengelola open trip ini adalah di Bungurasih. Kami ber-empat berangkat ke bungurasih dengan menumpang mobil Kiki yang diantar papanya. Enak banget sih, jadinya kan saya nggak perlu naik bis dari JMP  ke Bungurasih seperti rencana B jika papa Kiki gak bisa nganter. Setelah sampai, kami semua peserta Open Trip berasa kencan buta. Selama ini kami berkomunikasi sok akrab dan bercanda lewat jejaring sosial tanpa pernah ketemu langsung. Nggak kenal semua sama pesertanya. Mereka berasal dari latar yang berbeda-beda. Ada yang masih sekolah, kuliah diploma (mungkin hanya saya dan satu teman saya wkwk), S1, S2, sudah kerja, dan yang lain yang nggak saya ketahui. Bahkan tour leadernya juga masih mahasiswa semester 9. Setelah kami semua di-briefing oleh TL, kami berangkat lebih awal dari yang dijadwalkan, kira-kira pukul empat kurang seperempat. Ya, ini pertama kalinya kami ikut open trip. Banyak yang bilang kalau ikut open trip lebih mahal. Tapi kelebihannya, nggak ribet. Tinggal berangkat. Mereka semua yang urus. Cuman bawa perlengkapan pribadi yang diperlukan saja.

Perjalanan demi perjalanan kami lalui dengan ELF eksekutif isi 20 orang ini. Sampai di daerah Bangil, ELF yang kami tumpangi mogok. Kami peserta hanya turun dari ELF dan menunggu penyelesaian dari sopir, TL, dan koordinasi dari program ini. Kira-kira sejam kami menunggu, hingga maghrib.

ELF melaju, saya tidur, sampai dibangunkan teman saya untuk melihat PLTU di Paiton yang terkenal. Ternyata juga tidak jauh juga sampai di RM Utama Raya. Tunggu. Kami semua seketika bernostalgia jaman SMP masing-masing. Karena pada tur perpisahan ke Bali, sekolah kami berhenti di sini juga. 4,5 tahun yang lalu. Perubahan mencolok tentu bisa kami tangkap. Tempat ini semakin besar dan lengkap saja. Teman saya yang katanya lupa menjamak sholat isya senang karena lupa tadi saat sholat maghrib karena mushola untuk sholat di RM ini bagus hahahaha. Kalau saya memang tidak berniat menjamak karena tahu pasti akan berhenti lagi.

Berlanjutlah perjalanan kami setelah makan malam yang menurut saya so-so. Sudah kenyang, lanjut tidur. Nggak kerasa aja tiba-tiba sudah sampai di pos-pos menuju Ijen. Malem-malem dingin dan sepi....
Eh
Pas sampe di tempatnya
Berasa liat terminal
Nggak nyangka ternyata rame banget..
Tapi yaudahlah sih..

Yeheeeyy siap menuju Blue Fire yang katanya cuma ada 2 di dunia :D
Disana ada guide lagi, jadi di Ijen kami punya dua guide. Yang satu laki-laki yang startnya di Ijen, khusus Ijen, satunya lagi ya TL yang start dari Bungurasih tadi.
Kami dibriefing lagi dan berujung pada sewa masker seharga 25rb yang bayar di akhir. Katanya kalau nggak pakai masker nggak bisa liat blue fire dari dekat, minimal 100 m katanya. Takutnya ada bau belerang. Saya yang baru pertama kali naik gunung tentu saja menyewanya. Nah, teman saya yang pecinta alam nih, bimbang. Mau nyewa nggak yaaa.
Tapi kakak TL cewek bilang kalau ada bau belerang kami perlu jongkok karena biasanya bau belerang tidak menyentuh tanah setinggi 90 cm. Nada mereka serius. Sampai bilang, 'tahun kemarin ada juga yang mau ngeliat blue fire, nggak kuat bau belerang terus lemes dan dibawa ke rumah sakit, kira-kira ada 7 orang. Bikin nge-down. Ikutan nyewa deh si anak PA. Padahal kan maunya diantara kami berempat maunya gantian dan patungan biaya sewa masker. Tapi begitulah, jadinya kami semua nyewa juga.
Perjalanan menuju blue fire dimulai pukul 1 malam. Entah menurut pendengaran saya, jalur menuju ijen dibuka pukul 1 pagi. 
Pagi-pagi gelap dan dingin. Dengan senter kami berjalan berombongan 3 km jauhnya. Yah cuman 3 km sih. Tapi kerasa juga kok capeknya. Kalau nggak kuat bisa bilang ke teman lainnya biar ditunggu. Memang harus saling menunggu. Malam benar-benar gelap, dan peserta kan nggak tahu medan jalan. Kan serem. Yah meskipun rame juga sih. Jadi jalur ke kawah ijen itu tidak sesulit jalur pendakian gunung-gunung lain, karena memang seperti tempat wisata, kawah ijen ini sudah ramai dan ada banyak keluarga yang mengajak anaknya ke kawah ijen ini. Kuat sekali, dek! 1 km jalan landai, sisanya menanjak.

Setelah satu setengah jam, sampai juga kami di kawah ijen. Nggak bisa dilihat. Kan masih gelap. Tujuan kami adalah blue fire. Jadi kami turun kawah. Demi apa. Demi blue fire. Kami melewati jalanan berbatu dan rawan terpeleset. Karena gelap, kami tidak bisa melihat samping kiri kanan apakah jurang apakah apa. Kecuali kalau memang tebing bisa buat pegangan atau sandaran *eaaaa, nggak tahu. Kami hanya mengandalkan cahaya senter untuk melihat jalan mana yang bisa kami lewati. Hanya muat seorang pula, jadi kami berbaris. Kadang juga wisatawan harus mengalah pada pekerja tambang belerang yang lewat membawa batu belerang yang terlihat berat menaiki jalan bebatuan yang dibebankan pada bahu mereka. Saya sampai bersyukur, tas carier yang berat dibawakan oleh teman saya, botol aqua yang tadinya membebani tas juga dibawa oleh teman saya yang satunya. Saya hanya membawa senter dan berjalan paling belakang diantara kami berempat. Karena si guide dan rombongan lain sudah tidak terlihat lagi ujung hidungnya. Kami mencari jalan yang sekiranya dilewati banyak orang. Oh iya, ada rombongan dari kami yang tidak ikut turun ke kawah untuk melihat blue fire. Tapi meskipun merasa capek, saya merasa rugi bila tidak melihat blue fire secara langsung. Menakjubkan! Saya suka perjalanan tersebut. Masih jauh juga sih blue fire-nya. Rasanya capek, tapi ngerasa seru juga. Keinginanlah yang membawa saya kesana. Saya malah menikmati rasa letih dan pegal kaki saya demi pengalaman. Sampai dekat blue fire, saya tidak bisa menangkap momennya karena kemampuan dan kamera saya tidak mumpuni. Gelap gitu lho. Untung kami masih nutut untuk lihat blue firenya. Sekalian istirahat. ISTIRAHAT APA. Berdiam diri malah membuat tubuh semakin menggigil. Sifat saya yang nggak sabaran muncul gara-gara kedinginan. Saya sampai mengajak teman-teman saya yang juga merasa kedinginan naik ke atas tanpa menunggu rombongan dan TL. Nggak kuat dingin. Untung masih punya etika buat pamit duluan supaya nggak nyari. Jadilah kami memanggil-manggil gak jelas. Eh ternyata dua TL berada nggak jauh dari kami berlima. Berawal dari sanalah akhirnya TL menyuruh rombongan untuk foto bersama. Setelah itu barulah kami naik bersama-sama. Untung saja. Awalnya ngerasa serem juga, turun aja capek dan jauh, apalagi naik. Dan setelah beberapa saat kami naik, hari semakin terang. Jelas pula pemandangan indahnya. Nggak perlu senter lagi. Kami beberapa kali berhenti untuk berfoto karena pemandangannya memang bagus. Danau di Kawah Ijen yang hijau mulai terlihat. Blue Fire juga menghilang.

AAaaah rasanya perjalanan lebih ringan ketika pagi menjelang. Dingin yang menusuk semakin berkurang. Ada saatnya saya merasa lebih ringan saat naik jalanan berbatu daripada menuruninya. Apalagi saya sudah menyediakan diri saya membawa tas carier yang hanya berisi jas hujan milik empat orang yang tidak terpakai akhirnya, yang daritadi dibawa oleh teman saya si anak PA hehe. Rasanya ringan. Ya, Ringan. Sampai atas, kami di atas Kawah Ijen. Tidak seperti tadi, menuruni kawah. Di atas kawah ijen banyak orang. Wah, ramai sekali. Padahal di foto-foto yang tersebar di internet, terlihat sepi. Mungkin karena liburan kali ya. Liburan tahun baru. Setelah puas berfoto, dan foto bareng rombongan sambil megang banner dan ada tiga peserta tambahan (3 bule, satu berwajah kaukasian, satu bule timur tengah, satu lagi bule asia) tiba-tiba ikutan nimbrung foto bareng hahahaha. Mulailah kami menuruni bukit dan jalan yang tadi malam kami lewati. 3 km jauhnya. Kami berjalan sambil melihat pemandangan yang tidak bisa kami lihat pada hari gelap, dan berfoto-foto tentunya. Kami juga bisa melihat lautan dari atas, selat Bali dan kabupaten Banyuwangi.

Bagian paling nggak enak ya yang pas turun menuju pos ini. Rasanya tas carier di punggung semakin berat dan alih kekuasaan untuk membawa pun berpindah punggung. Rasanya lutut mau copot. Tumit sakit, telapak kaki sakit. Lha, semuanya bertumpu pada kaki. Apalagi kan pas turun menahan. Rasanya lebih baik berlari daripada berjalan. Tapi ya itu susahnya, kalau ada orang di depan susah mengerem karena jalanan yang menurun. Lagian enak jalan sih haha. Kiki yang berlari duluan. Yang tidak kuat bisa naik ojek yang diseret oleh penduduk lokal dengan biaya 200rb turun. 800rb PP. Mereka berteriak, "Gojek!" "Taksi" dan lain-lain. Buset dah, di gunung lengkap bener angkutan umumnya. Kalau saya sih pengennya ada lift atau eskalator aja wkwkwk. Eh jangan ding, ga asik dong ntar.

Sampai juga di pos terakhir yang ramai sekali ini. Sampai-sampai kamar mandi pun antri. Sayangnya pas kami kesana tidak ada air. Nah, setelah teman-teman saya selesai urusannya, airnya ngalir dan akhirnya ada air hahaha. Setelah itu, kami berempat bersama teman baru sesama peserta yang masih kelas 3 SMA mampir di sebuah warung untuk mengisi perut, dan minum teh. Tapi saya hanya minum teh saja padahal biasanya juga sarapan tapi.... males karena sudah dari semalem perut mules hmmm..
Setelah ditunggu-tunggu kok nggak ada orang orang peserta rombongan yang lewat di warung tempat kami singgah, kami menuju ELF akhirnya.
Ternyata mereka semua sudah menunggu. Hanya kami berlima.
Ngerasa gak enak sendiri hmmmm
Alhasil kami berlima merasa bersalah.
Ternyata belum sarapan semua.
Pokoknya sebisa mungkin gak boleh kami datang paling akhir buat masuk ELF.

Setelah melanjutkan perjalanan ke tempat makan, kami semua se-ELF tepar. Menikmati indahnya alam mimpi dan masih belum mandi semua.
Akhirnya kami sampai di rumah makan, dan tempatnyaaaaa membuat kami ingin ke Bali saja. Lha wong kami makan sambil ngeliat pemandangan pulau Bali, ditambah pelabuhan Ketapang memang tidak jauh dari sana. Mengintip sedikit ke bawah sudah bisa melihat jernihnya air laut Banyuwangi. Jadi ingat manusia ikan pas SMP.

Kami semua termasuk TL mandi di rumah makan tersebut. Karena memang banyak kamar mandi di sana. Seperti memang disiapkan begitu rupa hahaha.
Nah, ini tidak termasuk biaya open trip yang telah kami bayarkan sebelum hari keberangkatan. Kami semua serombongan patungan makan di sini.
Saya suka makan di sini sih. Lebih enak dari yang sudah termasuk 2x makan dari trip ini yang rasanya so-so.

Setelah makan, lanjut perjalanan ke Taman Nasional Baluran. Saya lanjut tidur. Sampai di pos depan Taman Nasional ini. Masih masuk lagi ternyata dan jauh lewat hutan yang nggak rindang dan sejuk sama sekali sampai saya tidur lagi hahaha. Kami mampir ke pantai Bama yang masih termasuk area taman nasional ini. Tidak ada yang spesial kecuali pemandangan yang bagus dan cuaca yang panas. pantai Bama juga ramai. Semua tempat wisata yang saya lihat di jejaring sosial yang kelihatannya sepi ternyata ramai juga. Ya, warga butuh hiburan saat liburan. Kami pulang lebih awal juga. Dan tidak melihat sunset juga di Baluran ini. Katanya mbak TL mau lihat sunset :( tapi nggak apa apa sih, kami semua juga ingin cepat-cepat pulang.

Alhamdulillah kami sampai di Bungurasih dengan selamat dan berpisah dengan teman-teman peserta yang lain. Juga tiba lebih maju dari yang ada di jadwal. Kami tiba kira kira pukul setengah duabelas malam dan dijemput oleh papa dan mamanya Kiki.

Saya tidak bisa tidur dalam mobil. Entah kenapa. Sudah kebanyakan tidur di ELP  sih hahahaha.


Sudah, sekian cerita saya kali ini :D


















Jumat, 30 Oktober 2015

Rainy Night Memories



Ketika cinta hampir menemukan jawabannya lewat tatapan mata dan kata-kata yang samar, khayalan selalu datang. Kita semua tahu, apa yang ada dalam khayalan tidak akan terjadi persis dan seringnya akan terjadi sebaliknya. Tapi tak apa. Berkhayal melakukan sesuatu yang menyenangkan bersamanya pun bisa membuat perut Elise dipenuhi kupu-kupu. Elise tidak tahu apakah ada rona merah di wajahnya. Hanya saja jawabannya sudah jelas pada tatapan matanya. Namun mereka sama-sama tidak bergerak. Sama-sama merasa kalau mereka berdua lebih baik diam. Parahnya lagi, sama-sama memilih untuk menunggu. Entahlah, menunggu apa.

            Saat itu jalanan sedang ramai di musim panas bulan Agustus ini. Elise hanya berjalan sendirian diantara kerumunan orang. Tidak ada yang dipikirkannya selain kilasan-kilasan memori saat ia melewati jalan yang sama, berjalan di bawah payung bersama Thomas di hari ulang tahunnya bulan Januari yang lalu, di jalanan yang sepi tersapu hujan di musim dingin, malam tidak terlalu gelap namun orang-orang lebih memilih untuk menghangatkan diri di dalam rumah mereka masing-masing, atau sekedar makan di dalam restoran yang hangat.
Tapi tidak dengan Elise. Ia sedang terburu-buru hingga tidak peduli hari hujan dan gerimis, tanpa payung, tanpa mantel ataupun jas hujan, dan kedinginan. Ia sendiri lupa dengan hari ulang tahunnya karena dia sudah sendirian terlalu lama dan terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Meskipun begitu, Elise menyukai seseorang, seseorang yang dia tidak pernah bisa membayangkan untuk bisa bersamanya. Hanya memandangnya dari jauh. Tapi tidak......
“Hai, kau mau kemana?” tiba-tiba sebuah payung ada di atasnya dan seorang laki-laki dengan postur tegap dan tinggi sudah ada di sampingnya, dan berbicara dengan hangat. Elise yang pemalu, tidak akan pernah berani menatap ke mata laki-laki tersebut. Ia hanya menoleh sebentar. Namun dia bisa merasakan mata laki-laki tersebut terus tertuju ke wajah Elise yang merah padam. “Aku terburu-buru ke teater,” Elise tetap berusaha ramah dan menatap lurus ke depan. “Kau mau ikut?” Elise mencoba berbasa-basi. “Ya, tentu saja. Aku juga ingin ke sana. Kebetulan bertemu kau. Aku sampai berlari untuk bisa mengejarmu. Jalanmu cepat sekali.” Goda lelaki tersebut. Tidak bisa dibayangkan betapa merah padamnya wajah Elise dan dingin seakan melukai kedua tangannya di malam ini. Dia hanya berbisik dalam hati betapa cerewetnya pria ini. Tidak seperti yang ia bayangkan selama ini. Pria tersebut juga sangat ceria, sangat bertolak belakang dengan Elise.
Sepanjang perjalanan, Elise hanya terdiam dan menjawab seadanya. Pria itu terus bercanda dan sesekali melihat ke wajah Elise, seakan memastikan, apakah Elise tersenyum mendengar candaan ringannya, atau...... lelaki itu hanya ingin melihat Elise saat tersenyum. Elise hanya berpikir, apa ini?
Akhirnya Thomas, lelaki tersebut, dan Elise berpisah karena Thomas bergabung teman-temannya yang tidak mengenal Elise. Dia lebih memilih duduk sendirian daripada bersama teman-teman Thomas. Banyak alasan untuk menolak bergabung.
Pertunjukan sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Elise terlambat beberapa menit dan melewatkan setengah pertunjukkan Vynn, sahabatnya. Tapi mata Elise masih mengikuti arah Thomas berada. Sialnya, ternyata Thomas juga memandang ke arah Elise setiap kali dia menatapnya. Selama ini Elise selalu menjaga perasaannya sendirian, tidak mau Thomas dan orang lain tahu tentang perasaannya karena Vynn sudah mendekati Thomas. Dan Elise mengetahui banyak hal tentang Thomas dari Vynn. Hingga pertunjukan berakhir, Elise masih tidak bisa melupakan kejadian tadi. Perasaan Elise tidak seperti saat ia tidak mengharapkan Thomas untuk di sisinya. Apakah?
Di dalam sebuah restoran yang hangat, Elise dan Vynn duduk bersama di dekat jendela dengan pemandangan jalanan basah dan sepi, hampir tidak ada orang yang lewat. “Terima kasih, kamu sudah datang. Aku sempat mencarimu, ternyata kau datang, tepat saat aku melihat Thomas juga,” wajah Vynn terlihat lebih ceria dari biasanya, mungkin karena dia tahu Thomas datang ke pertunjukan. “Aku sangat tidak menyangka Thomas mau datang melihatku di pertunjukan. Padahal kemarin dia mengatakan padaku dia tidak bisa datang. Kau yang ulang tahun, kenapa aku yang diberi kejutan?” Elise tertawa karena apa yang dibicarakan Vynn ada benarnya juga. Dia jadi ingat hari ini hari ulang tahunnya. Apa Thomas tahu hal itu?
“Kau ingin makan apa? Aku ingin membelikan sesuatu yang sahabatku inginkan di hari ulang tahunnya,” Elise tersentuh, dan tidak bisa memikirkan apapun selain Thomas dan tidak bisa mengatakan apa-apa, padahal yang dia inginkan saat ini adalah Thomas. “Tidak usah membelikanku apapun, aku hanya ingin kau tetap jadi sahabatku apapun yang terjadi,” Elise tersenyum hangat.
“Aku sudah menduga kau tidak ingin apapun,” Vynn tersenyum dan memanggil seseorang yang membawa kue ulang tahun. Jean, sahabat yang selama ini ada di Montreal, yang selalu Elise rindukan, kini ada di hadapannya. Elise sangat bahagia dan memeluk Jean erat. “Aku sengaja tidak menghubungimu supaya kau tahu rasanya merindukan seseorang,” tidak disadari air mata Elise tumpah. Bukan hanya karena bertemu Jean, tapi juga karena perasaannya. “Maaf aku terlalu sibuk,” Elise kembali ceria, karena hari ini adalah hari bahagianya.
Kini, di jalanan yang ramai tersebut, Elise masih mempertimbangkan banyak hal. Pikirannya beralih kepada Vynn yang sedang patah hati, karena Thomas dengan jujur mengatakan bahwa dia menyukai orang lain. Bukan hanya itu, Thomas juga mulai menjauhi Vynn. Elise yang masih tetap menyembunyikan perasaannya, tetap bertahan dan masih sering memandang Thomas dari jauh, meskipun kadang Thomas mencoba duduk disampingnya dan sering tersenyum setiap mengetahui Elise sedang memandangnya. Hanya saja Thomas tidak pernah mencoba mendekatinya. Thomas juga sepertinya bercerita pada Vynn dan teman-temannya yang lain tentang orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Elise yang bahkan Elise tidak tahu siapa orangnya dan membuatnya penasaran. Apakah Thomas hanya mengada-ada tentang orang tersebut untuk membuat Elise penasaran? Elise cepat-cepat menghilangkan pemikiran itu dari otaknya. Mungkin memang benar, siapapun orang itu, dia sangat beruntung.
Elise hanya berjalan dan tetap merasa bahagia dengan memori di malam saat hujan itu.


NP: Raindrops Keep Falling on My Head - B.J. Thomas
Sumber: google 

Minggu, 14 Juni 2015

Madakaripura Waterfall

Here we go!

Let's check it out! The story I've promised to ya'll if you read the previous article in this blog. Yuk cussss. Cekidot. (come on, check it out)

Madakaripura Waterfall.

This waterfall is located in Lumbang, Probolinggo, East Java. I visited this place after I went to Bromo before. Such a delightful adventure. Being a liar 'Bocah Petualang' (Adventurer kid) for 2 days. Yeah, I was a rebellious kid for 2 days, because I lied to my parents to go to Bromo, by motorcycle. It was a dangerous thing I ever did (dangerous? proud about it?) and I felt guilty. I just thought it didn't matter because teenagers have a fearless soul.

It didn't take a long time from Bromo to this waterfall, by motorcycle.
The entrance is only IDR5,000 a person. If someone like a local guide took you to guide you through the waterfall, make sure that you know the price of their guide service. In my experience, they just looked like friendly people who didn't require a cost and didn't say anything about the cost. But in the end, you must pay an exact number amount of money for his/her guidance service without bargained. It because my friends and I were just a group of teenagers who could be easily fell to his mock. We're too fool to not checking the price. It was the second time we fell to the lies by a local guide on this trip. But that was much better than in Bromo. Maybe it was our karma (?) because we lied to our parents. So this was the second time we paid more expensive than the proper cost for a guide service. We couldn't bargain.

After taking a long walk time, we arrived at the waterfall. It's a peaceful place and scary at the moment. The guide said that we could scream out our hopes at this waterfall. Made no sense, huh. We passed rocks by rocks. Stepped into a sloping riverbank through the current of the river, and got wet. Like a rainy day, but it wasn't. It was a waterfall's dripping water. You couldn't shun from getting wet. That's why the guide suggested us to wear the raincoat. The importance is; if you brought a camera, you could bring out your waterproof for your camera nor your handphone. Make sure that you go to Madakaripura, not on a rainy day. This waterfall could be closed because it could be dangerous.

At the time I got there, circa 3 years ago, it was a quiet place. Not many tourists and the track was still difficult. The tourists were just 9 people (my friends, me, and a couple). 
I heard from my friend who just visited this place that the tracks are more accessible than 3 years ago. Such good news for you is all who want to visit this place.

Spamming pictures begins.. :D






My friend

*All pictures were taken by the guide

Rabu, 22 April 2015

Mt. Bromo, Indonesia



They Said, “It’s crazy and bizarre!”

Before, my friend has shared this at her blog: Link
However, I’m still gonna talk about my adventures in Bromo (with my version lol), one of the so many beautiful mountains in Indonesia. You will be stunned by panoramas in Bromo, and it will be one of your unforgettable adventures in your life. Especially if your experiences are unusual. You will see the adventure of 6 girls by motorcycle, how people stunned about them and thought of how crazy they were.  

I was amazed when they said, “We’re not going to Devi’s home in Malang anymore, we are gonna go to Bromo!” I couldn’t say anything except I was so happy and felt like I had lied to my parents about that. Yeah, we had had a plan that we’re gonna go to Malang by train, not Bromo by motorcycle, but that’s the story, aaand the journey began. We chose the track from Probolinggo. There was no problem except a little accident in the ascent of the road of Bromo. On the trip, there was little rain in the slope of the mountain on the way. For the trip to Bromo, we don't need to worry about being lost because there were many signs to reach Bromo along the road. All along the road, I stunned by the green terrace scenery, the best view of nature. On the way of the trip, we lost our friends in 1 motorcycle because her bike was a kind of old motorcycle. Then, when I saw two girls in Bromo, I thought that luckily we were, we found the girl who drove a motorcycle too. But, I realized that they were my lost friends, then we stop our motorcycle, put off our rainy coat, and took a picture!
Captured!

We arrived at dusk and hurried to find a rented house for prayer, because there was no mosque anymore. Most of Tengger people are Hinduism. We rented a house to sleep for a night and must wake up at 3 am to see the sunrise of Bromo. We’re all must pay 200 ribu rupiah for that, and that rented house was just circa 300 meters from the entrance of Bromo.
We woke up at 5 am, far from our expectation at 3 am, but it's okay to see the sunrise of Bromo. We took the dawn at Penanjakan 2
Here was the sunrise from Penanjakan 2


For so many people, it will be a better view if you look at the sunrise of Bromo from Penanjakan 1 on the Pasuruan track. Who cares.

After sunrise, we went to the savannah of Bromo, there was so much sand, black sand, a lot of sand! Like a desert, but it was not as hot as the desert. With the cold air, we drove our motorcycle through that sands. That made us sometimes slipped, yeah, there are a lot of sands in Bromo. We arrived in the grass field. The green hill in this place is like in the Teletubbies hills and area. 

Savannah of Bromo



After savannah, the next was the Bromo Crater. In Bromo crater, we could see Mount Batok, next to Mount Bromo. The good view from Bromo is Batok, be honest, I think.




But not at all, It's beautiful too ;)





The beautifulness of nature and I


Soo green!


After that, we packed our stuff at 9 am and went to Madakaripura Waterfall. Just circa 30 minutes, we arrived at Madakaripura. I will post about Madakaripura Waterfall, well, maybe in the next post. See you.