Jumat, 15 Mei 2020

Art Supplies Review: Cat Akrilik Maries vs V-Tec

Saya waktu itu beli cat akrilik karena mendengar.. membaca kabar dari beberapa website di pencarian google kalau mereka bisa untuk melukis di atas kain tote bag. Wah, saya juga ingin fashionable pake tas tote dengan sentuhan artistik tangan saya hahahaha. Yah, meskipun bisa disablon juga dan banyak seniman yang juga berkarya lewat tools digital. Tapi, tapi, yang manual pengalamannya lebih bermakna karena kalau salah tidak bisa undo :')

Nah, berbekal skimming baca referensi, saya memutuskan membeli cat akrilik yang terjangkau saja lah harganya. Pilihan saya jatuh ke Marie's dan V-Tec. Kuasnya juga satu set kuas merk V-Tec nomer ganjil 1-11 berjumlah 6 kuas. Media lukis pakai watercolor paper dan tote bag yang saya punya. Karena sayang kalau harus gagal di atas tote bag saya, maka saya berlatih menggunakan cat akrilik pakai watercolor paper. Menurut saya, kalau cat Marie's ini cepat kering. Jadi kalau mau ngeblend warna, pastikan kalau warna nya sudah siap di palet sama campuran-campuran warna yang sudah dibuat. Saya biasa mencampur V-Tec dan Marie's untuk menghasilkan warna yang saya inginkan. Karena saya beli warna yang berbeda untuk merk yang berbeda pula wkwk. Ketika menggunakan dua merk tersebut dicampur, tentu yang pengaruh cepat kering atau tidaknya ya yang banyak yang mana itu yang punya pengaruh.


Campuran V-Tec dan Marie's di atas watercolor pad

Saya pertama kali coba melukis pakai cat akrilik yang baik dan benar di atas media watercolor paper merk ARTeMEDIA dan Canson. Untuk cat Marie's mereka lumayan cepat keringnya. Tapi masih ada waktu buat nge blend warna dari atas sampai bawah. Sebisa mungkin kalau melukis pakai warna gini kertasnya jangan kertas yang tipis, karena cat akrilik ini sifatnya basah. Makanya namanya watercolor paper. Kertasnya tebal. Setelah tahu cara melukis pakai cat akrilik, saya coba langsung melukis di atas kain tote bag blacu merk nggak tahu. Awalnya saya pakai tote bag yang bahan blacu yang tipis dan nggak ada furingnya. Menyerap dengan sempurna. Sampai tembus :" makanya saya kasih alas papan di dalam tote bag biar gak tembus sampai bagian belakang. Di atas kain ini, sekali usap cat, langsung kering dengan begitu cepatnya. Kalau mau ngeblend, tidak ada waktu, bahkan untuk ngambil cat di palet wkwkw maaf saya hiperbola. Ngeblend bagian atas, yang bawah sudah keburu kering. Jadi kalau mau melukis di atas tote bag, usahakan gak usah pakai warna yang nge blend2 gitu deh. Kalau masih belajaran kayak saya, satu warna aja haha. Gambarnya pun yang simpel kayak logo boyband atau girlband Korea Selatan bukan Korea Utara. Saya gak ngikutin boyband atau girlband dari korut, kak. Biasanya logonya bentuk kotak kotak lurus.


Logo boyband Korea Selatan dicat di atas kain blacu


Percobaan melukis di atas kain tote bag. Pakai cat acrylic Marie's


Nah, setelah selesai nyoba Marie's, saya nyoba V-Tec. Nah, yang ini agak lama keringnya. Di atas media watercolor paper, saya mesti nunggu beberapa saat untuk cat ini biar kering. Kalau di atas media tote bag blacu, lumayan bisa buat nge blend warna karena sifatnya yang nggak cepet kering.
Perasaan, dulu saya beli V-Tec lebih murah. Eh, apa saya yang lupa ya. Nggak tahu deh. Tapi sekarang liat di toko online, V-Tec lebih mahal daripada Marie's. Hmmm memang sih, pengalaman cat nya lebih nyaman yang V-Tec hahaha. Lah kalau cepat kering pusing juga kalau pengen melukis gambar sunrise atau sunset. Kan gambar macam gitu perlu blend2 warna. 

Terakhir, saya mencoba melukis di atas kain tote bag lagi bahan drill. . Kalau di atas kain ini, luar biasa. Kainnya tebal, nggak tembus sampai ke belakang. Cuman memang setiap kain ada plus minusnya. Di atas tote bag ini memang hasilnya bagus, keliatan halus. Tapi ya itu, karena kainnya rapat-rapat beda sama blacu, dia butuh banyak cat. Menurut saya, untuk ukuran cat akrilik 30 ml di atas kain blacu, bisa lah ya buat 2 kali melukis gambar warna latar belakang penuh di atas tote bag. Sudah begitu saja review cat akrilik dari saya. See you

DIY Floral Makeful Tote Bag | Floral tote bags, Canvas bag diy ... 
source: pinterest



Acrylic Landscape Painting Techniques - Misty Forest with Sunrise ...
source: pinterest

Minggu, 08 Maret 2020

Review Buku Mochtar Lubis: Catatan Perang Korea

Waktu saya lihat bukunya pertama kali di Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya, saya langsung tertarik dengan judulnya. Selain karena saya sedang terhipnotis karya-karya seorang artis dari Korea Selatan, juga karena beberapa waktu lalu saya sempat baca di salah satu artikel Deutsche Welle tentang bagaimana peliknya perang Korea yang terjadi di tahun 1950-an ini. Bagaimana banyak orang, tentara dan warga sipil yang harus dikorbankan. Dari ketertarikan itu, saya ambil, saya amati buku tersebut dan memutuskan untuk membacanya karena adanya nama Mochtar Lubis sebagai penulis, nama yang tidak asing bagi saya.

Benarlah. Setelah dibaca, tulisan beliau itu menarik hati. Sebagaimana karya-karya para penulis yang sudah sangat berpengalaman di dunia jurnalistik atau penulis karya-karya sastra, tulisannya mengalir dengan begitu jernih.

Buku ini adalah karya Mochtar Lubis pertama yang saya baca.

Mochtar Lubis adalah satu dari banyaknya wartawan PBB yang diundang untuk meliput perang Korea ini. Dalam ceritanya, tidak banyak wartawan yang bersedia merasakan langsung bagaimana keadaan di Korea selain karena ada kepentingan mereka. Kepentingan yang berbeda pula. Misalnya wartawan dari Filipina yang datang meliput ke Korea karena ada pasukan Filipina di Korea, wartawan dari Texas yang hanya peduli dengan pasukan Texas dari Utara, dan ada yang hanya mencari berita yang makes a good copy di negara mereka. Bahkan ada yang hanya tinggal di Tokyo dan mendapatkan berita dari wartawan yang terjun langsung di Korea. Bagi kebanyakan dari mereka, latar belakang perang Korea tidaklah terlalu penting untuk dibahas di dunia internasional. Dari yang saya baca, Mochtar Lubis ingin berbagi sudut pandang dari segi kemanusiaan di balik perang antara  Korea Selatan dan Korea Utara.

Kisah dalam buku ini dimulai dari perjalanan awal Mochtar Lubis atas undangan sebagai wartawan perang dari PBB untuk meliput perang Korea. Dari Jakarta, naik pesawat ke Surabaya untuk berhenti sejenak, isi minyak, lalu Balikpapan, lanjut Manila, dan Okinawa. Lalu perjalanan berlanjut di Tokyo, dan diceritakannya pemandangan kota yang rapi dan menyenangkan untuk dibuat jalan-jalan keliling kota. Sesuatu yang patut diapresiasi dari orang-orang Jepang yang cepat bangkit setelah peristiwa perang yang merusakkan kota. Diceritakannya juga adanya hotel khusus wartawan di Tokyo dengan fasilitas yang bagus. Setelah dari Tokyo, para wartawan perang PBB melanjutkan perjalanan menuju Pusan. Menurut saya, penuturan penulis tentang orang-orang Korea yang suka memakai pupuk dari kotoran manusia itu cukup menggelitik. Sampai-sampai ada pernyataan, "Kalau kelamaan tinggal di Korea kita akan ikutan bau kotoran manusia dan tidak bisa hilang meskipun mandi berkali-kali." Haha.

Dari Pusan, para wartawan menuju Taegu dengan menaiki jeep. Suasana di camp sangat berbeda jika dibandingkan dengan suasana di Tokyo. Debu yang tebal dari kendaraan-kendaraan militer dan ruang tidur yang sangat sempit menjadi sesuatu yang cukup menantang. Sebenarnya perang Korea ini adalah konflik kepentingan. Amerika saat itu mengerahkan kekuatan mereka untuk mempertahankan Korea Selatan dari pendudukan Korea Utara yang diperkuat oleh kekuatan Soviet yang saat itu ingin meluaskan faham komunisme, sedangkan Amerika berusaha membendungnya. Menurut penulis sendiri, dia menyatakan bahwa kita semua tidak bisa melihat hanya dari satu sisi. Karena semua pihak saat itu menderita akibat perang ini, apalagi masyarakat sipil yang tidak tahu apa-apa dan turut menjadi korban. 

Sebenarnya, pada awal ketika faham komunis hadir di Seoul, masyarakat menyambut baik karena rayuan manis akan kesejahteraan rakyat yang adil merata. Tapi, lama-kelamaan para penguasa menjadi semena-mena kepada rakyat dan membuat rakyat menderita.

Dalam buku ini juga ada cerita tentang bapak tua pemilik pohon berbuah, dia mengeluh karena buahnya diambil oleh tentara Amerika karena pihak Amerika sudah membayar sewa dan merasa berhak atas semua buah dari pohon tersebut. Awalnya, para wartawan merasa kasihan terhadap bapak tua ini karena buah-buah nya sudah habis tak bersisa di pohonnya. Tapi kemudian rasa kasihan itu mendadak hilang waktu wartawan tersebut melihat sendiri bagaimana kasarnya bapak tua tersebut ketika ada warga kelaparan yang mendekati pohon buah tersebut. Masih untung pohon dia disewa dan dia mendapat bayaran dari tentara Amerika. Kalau saja bertemu pasukan Korea Utara, sudah habis pohon itu dibagi-bagikan kepada semua orang.

Di bagian akhir, buku ini bercerita tentang pemimpin Korea Utara, Kim Il-sung dan pemimpin Korea Selatan, Syngman Rhee. Kim Il-sung dipandang sebagai seorang pahlawan yang saat pendudukan Jepang melakukan perjuangan melawan Jepang. Sedangkan Syngman Rhee hidup sebagai seorang pemimpin politik dalam buangan di luar negeri. Dia mencari bantuan ke Amerika untuk menjamin kemerdekaan Korea dan mencegah Jepang untuk menguasai Korea, tapi perjuangannya tersebut tidak berhasil. 

Menurut saya, buku ini membuka perspektif kemanusiaan dibalik kisah perang dalam sebuah sejarah. Antara komunisme Soviet dan liberalisme Amerika, sebenarnya semua punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, tergantung pada pemimpin mereka. Namun, di Indonesia, pandangan yang kita gunakan adalah Pancasila yang sesuai dengan kepribadian rakyat Indonesia yang terdiri dari beragam latar belakang dan budaya.

Minggu, 15 Desember 2019

Review Makaroni Pedas Asin di Surabaya (Macaroni Cuck dan Makaroni Ngehe)

Awal kepikiran buat beli makaroni pedas ini karena ingin me.......... Huft. Yahitudeh. 

Oke langsung saja.

Pertama, Makaroni Ngehe di Surabaya. Saya beli di Bratang. Pertama kali beli yang level 3 rasa balado dan asin. Rasa baladonya manis gitudeh. Rasa asin nya asin. Tanya masnya ada berapa level. Untuk makaroni nya ada level 1 - 5. Nggak tahu deh varian pedes-pedes lainnya bagaimana. Selihat saya ada mie mie, lidi, dan bentuk tepung goreng yang lainnya. Sempat lihat putih-putih bulat bentuk cimol tapi enggak deh. Masih belum tertarik buat nyoba. Makaroninya yang level 3 menurut saya nggak seberapa pedes. Waktu pertama beli agak takjub karena kemasan plastikannya uwu.

Sebenarnya Apa Itu Uwu?! Ini Artinya! Bukan yang di Twitter!

Setelah beli level 3, hari-hari selanjutnya saya penasaran sama yang level 5. Repuchase ke-dua adalah rasa asin lagi dan plastikan lagi. Beli satu aja, karena pengen nyoba makaroni lain yang ada di internet-internet warga Surabaya. Waktu lihat mas nya nyampur makaroni dan bumbu-bumbunya saya pengen wahing-wahing, padahal waktu beli yang level 3 enggak wahing. Ditawarin buat ngincip, tapi sudah tahu rasanya, mas. Maaf kutolak. 

Seperti yang sudah saya bilang di atas, saya pengen nyoba makaroni pedes lain. Setelah pencarian di google, nemu rekomendasi Macaroni Cuck. Tempatnya di daerah Gubeng. Review di Google maps bagus bagus. Dekat kampus saya dulu sebelum wisuda. Setelah dicari ternyata tempatnya jadi satu dengan Pentol Gila. Di suatu gang makanan-makanan dekat Unair. Di Gubeng Airlangga II. Tempat ini terkenal di kalangan mahasiswa Unair. 

Setahu saya makanan nya banyak yang semacam ayam geprek, pedes. Pentol gila isi cabe, pedes. Seblak, pedes. Es coklat, manis. Pisang keju alias pisang goreng ditepungi dengan topping keju dan gula-gula coklat, manis. Cocok untuk lidah-lidah manja. Ginjal dan lambung strong tapi harus.

Tempat di Cuck ini lebih sederhana daripada Ngehe. Di Ngehe masnya pake seragam, ada masker penutup mulut yang kayak di penjual Xing Fu Tang.  Di Cuck enggak ada semuanya. Saya beli Macaroni Cuck kemasan plastik rasa garlic and lime satu saja level 4. Nggak tahu kenapa kok nggak beli level 5. Disana bisa terlihat ada macam-macam bentuk tepung goreng renyah. Malah ada makaroni versi ngembang. Saya sempat lihat ada basreng juga. 

Sesudah tahu rasanya Macaroni Cuck ini, lidah saya agak menolak Makaroni Ngehe. Soalnya Cuck ini gak cuma asin, tapi juga ada rasa daun jeruk. Enak dan cocok di lidah saya. Bikin terharu lagi, di kemasannya ada tulisan Hand Cooked. Dimasak pake tangan. Berasa spesial. Untuk semua makanan yang beli diluar, nggak usahlahya bertanya-tanya hygiene. Skeptis nggak apa-apa, percaya yang terbaik juga nggak apa-apa. 

Soal bentuk makaroni gorengnya, yang Cuck lebih besar daripada Ngehe. Padahal bukan yang versi ngembang. Saya jadi ingat, sesudah makan makaroni Ngehe, lidah saya perih-perih gimana gitu. Mungkin makannya kurang pelan. Satu lagi, dua-duanya bikin cegukan setelah makan. Efek pedes kali ya. Pas makan makaroni Ngehe level 3 juga after effect nya cegukan juga. Harga sama, 6 ribu

Penilaian sesuai preferensi saya buat makaroni ordinary rasa asin Ngehe vs Cuck: 

Tempat jualan 1 - 0
Packaging 2 - 0
Sendok plastik 2 - 1
Tekstur makaroni 2 - 2 
Rasa 2 - 3

Intinya, buat saya, kalau soal makaroni rasa asin, Cuck yang menang. Viva daun jeruk!

Eh.. emang pake daun jeruk? Wkakaka..

Yah, semuanya punya kekurangan dan kelebihan. Begitupun kita.

Kreseknya Ngehe merah (kiri) - Cuck putih (kanan)

Kemasan Cuck - staples


Sendoknya tugel :( gara-gara masuk tas 

Kemasan Ngehe. Tutupnya plastik elastis. Nggak kelihatan kalau sudah diambil satu makaroni




Senin, 09 Desember 2019

Sepatu Jebol Naik Gunung Penanggungan

Makin kesini saya makin tidak percaya diri untuk menulis blog. Saya sampai browsing-browsing bagaimana tulisan orang-orang lain yang muncul di pencarian google tentang topik yang sama. Huee.

Kali ini saya mau nulis tentang perjalanan di gunung Penanggungan dan puncak Pawitra-nya di bulan-bulan awal 2019 ini.

Welcome to my post in the last month of the year 2019!

Mungkin saya akan menulis post lain tentang pendakian gunung Pundak atau Semeru cuma sampai Kalimati. Karena waktu-waktu yang lalu saya melakukan debut sebagai salah satu orang-orang yang camping di gunung-gunung yang sepertinya cocok untuk pemula seperti saya.

Penanggungan 16-17 Februari 2019

Awalnya kami merencanakan keberangkatan dengan 6 orang, lalu menyusut jadi 4 orang, dan berakhir pergi bertiga saja.

Dua cewek dan satu cowok pula. Nasib hidup kekurangan cowok.

Kami naik motor, saya membonceng. Ada yang sendirian tentunya. Masa cengluuu.

This should be a long post, but I'm gonna make it short.

Untuk jalur pendakian, setahu saya yang paling terkenal itu ya Tamiajeng dan Jolotundo. Tapi menurut saya yang ramai ya lewat Tamiajeng ini. Pemandangannya lebih bagus daripada lewat Jolotundo. Cuman yaa saya sempat penasaran gimana sih kalau lewat Jolotundo soalnya saya juga pengen lihat-lihat situs bersejarah yang bisa dijumpai kalau lewat Jolotundo.  Tapii kalau diantara semua anggota rombongan belum ada yang pernah lewat sini, alias tidak familiar dengan jalur ini,   via Jolotundo cukup tidak direkomendasikan. Karena pertimbangan keselamatan juga, akhirnya kami memilih jalur Tamiajeng.

Jalur ini cukup mudah dijangkau. Lewat UTC kampus UBAYA di Trawas. Bisa pake google maps juga.

Waktu itu Penanggungan ditutup mulai Januari karena cuaca buruk. Rencananya, kami berangkat seminggu sebelum tanggal yang disebut di atas. Seminggu sebelumnya, jalur pendakian baru dibuka. Kata orang di loket, kalau pas baru dibuka, itu masih sepi. Wah, andai saja.... Berandai lagi. Harga tiket, seingat saya 10 ribu. Dapat stiker buat kenang-kenangan. Kami sempat dibriefing petugas, kalau naik ke puncak Pawitra besok harinya, tolong waspada sama barang berharga dan bawang bawaan yang ditinggal di dalam tenda. Karena ada kejadian kehilangan barang waktu ditinggal muncak sama empunya. 

Hmmmm. Rasanya si gunung sudah tidak ada harga diri hingga ada orang berani mencuri.

Meskipun ramai mari kita tetap coba lihat sisi baiknya.. Kami cuma bertiga, sepi. Kalau ramai bakal ketemu banyak orang. Nggak sepi lagi. Waktu di pos 1, pos yang masih ada warung, kami bertemu bapak-bapak penunjuk jalan yang kami temui sebelum sampai di basecamp. Ternyata beliau pemilik warung gais. Lalu mengobrol agak lama. Ngalor ngidul nggak ingat waktu. Kami juga melihat ada rombongan pendaki yang kata bapak pemilik warung, masih SMP, laki-laki semua. Agak shock wkwk. Sudah dewasa rupanya ya rombongan remaja SMP yang waktu itu bertemu. Dah tua-tua mahasiswa malah masih kekanak-kanakan.

Sepanjang perjalanan menuju pos bayangan, kami bertemu macam-macam bentuk rombongan. Ada yang berempat, cewek-cowok cewek-cowok, berlima cowok semua ceweknya cuma satu, dan kami rombongan cewek dua cowok satu. Kebanyakan dari daerah Jawa Timur. Surabaya, Sidoarjo, ada yang dari Bojonegoro. Rata-rata naik sepeda motor.

Waktu di perjalanan hujan sedikit. Hampir sampai pos bayangan, jalanannya lumayan menantang karena perlu merangkak, buat saya pendaki pemula. Kemiringan mulai kejam. Plus, ada pemandangan lampu-lampu kota di bawah. Waktu itu, kami naik sekira jam 5 sore, masih agak padang cahayanya. Sampai puncak bayangan sekira jam 9 atau 10 seingat saya,

Setelah sampai di pos bayangan, kami kesusahan menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Ramai juga ternyata ya. 

Setelah nemu, kami segera mendirikan tenda dan memasak mie. Setelah itu langsung tidur karena capek. Disini lebih tenang daripada di gunung Pundak. Tidurpun lebih nyenyak. Mungkin orang-orang mengisi energi buat ke puncak Pawitra.

Pagi-pagi sekali, sempat melihat sunrise. Momen lumayan uwu.

Matahari terbit merah jambu, lalu jingga hingga berubah terang.


Pos bayangan dan pemandangan puncak pawitra

Sesudah sikat gigi dan berunding enaknya naik ke puncak atau tidak, saya bersikeras untuk naik, karena saya sudah pengen sejak dulu kala.

Selfish.

Kami muncak berdua, lalu bertiga, lalu berdua lagi. Karena masalah kaki. Sepertinya lumayan lama. Sampai teman saya yang berjanji menunggu di tengah-tengah perjalanan akhirnya kembali ke tenda. Muupin yaw T-T maklum saya pendaki lamban.

Trek berbatu. Kemiringan: sudut siku-siku 90 in my mind

Waktu muncak, saya hanya sangu kacang sukro sebungkus dan sebotol 1 liter di saku jaket. Sangu kamera saku, dan nggak bawa hp seingat saya. Belum makan nasi sudah harus memforsir tenaga.

Treknya nyebelin, sih. Berbatu, kemiringan kayak nggak miring. Nggak bisa pake sekadar dua kaki. Butuh tangan buat pegangan. Gak tau pengen lagi apa enggak buat ndaki-ndaki macam beginian. Lelah bang, puncak nggak kunjung terlihat. Hanya terlihat beberapa sampah plastik yang tidak dibawa turun oleh empunya. Sayangnya lagi, sepanjang perjalanan saya sempat menemukan sampah bungkus roko. Siapa lagi kalau bukan manusia tidak bertanggung jawab. Jadinya, merelakan sedikit tempat di saku jaket untuk memungut sebagian sampah yang sekiranya nggak menodai jaket saya. Terlihat juga batu-batu besar yang dicoret-coret.

Pemandangan gunung welirang - arjuno di puncak penanggungan

Eh..... itu, sampai juga di puncak.
Bahagia juga lho sampai puncak. Keinginan tercapai. Wuhu.
Kami pun selfie-selfie, foto-foto orang, wajah, sampai sepatu yang jebol. Yhaa.

Kaki-kaki pemilik sepatu jebol

Masalah datang waktu turun menuju camp puncak bayangan. Mungkin asam lambung sudah naik karena telat makan. Lalu masuk angin. Lemes banget rasanya. Jalan turun sangat pelan. Kepleset berkali-kali. Anxiety kumat wkk.... Rasanya pengen diseret aja. Kejadian di Semeru terulang kembali. Tapi beneran enak lho pas diseret wahahaha.
Kami baru sampai di puncak bayangan jam 10. Sudah agak panas. Lalu mengisi perut dengan makan roti bakar isi daging burger bernardi. Roti bakar pun terasa nikmat, buat teman-teman saya. Karena perut saya sedang tidak beres. Sesudah makan, kami segera beres-beres barang-barang, tutup tenda dan melanjutkan perjalanan menuju basecamp. Kira-kira jam 12 siang. Perjalanan terasa lambat karena saya memang berjalan sangat lambat. Lemas rasanya.

Sampai turun ke bawah, sepatu saya sudah jebol parah. Bukan sepatu gunung soalnya. Anu, sepatu  olahraga jaman sekolah yang masih muat. Gak layak pakai. Solnya, alasnya, lepas semua jadi 2 lapis. Akhirnya saya ganti sandal di warung pos 1 sambil menyeruput es nutrisari jeruk.

Sesudahnya, kami melanjutkan perjalanan lagi ke basecamp. Sesampainya di basecamp kira-kira jam 4 sore, sangat ramai dan ada akustikan juga. Di sana saya makan soto seharga 10 ribu an dan teh hangat. Cukup ampuh untuk menyembuhkan saya. Saya jadi bersemangat kembali. Sebelumnya, saya sempat menelan obat maag dan obat masuk angin waktu di puncak bayangan.

Untung saja setelah itu saya bisa melanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya membonceng naik motor. Waktu itu kami pulang jam 5 sore. Sudah petang. Hampir 24 jam menghabiskan waktu di gunung.

Meskipun sudah sempat sampai puncak penanggungan ini, pengen nyoba tek-tok sih. 
Semoga bisa di lain waktu ~


Minggu, 18 Desember 2016

Pengalaman ke SCNM Bersama Exchange Students UNAIR

[Update an post Art and Wax House yang pernah saya unggah beberapa tahun yang lalu]
Sebenarnya ingin beri judul Suroboyo Carnival Night Market (SCNM) Kali Kedua pada yang bedaaa.


Yup! Saya kesini lagi hari Jumat tanggal 30 September 2016 bersama buddies-buddies saya yang berasal dari Malaysia. Mereka kebetulan adalah Exchange Students program AMERTA UNAIR. Saya adalah peserta program Best Buddies IOP UNAIR yang seharusnya 'offer' 'hospitality' pada mereka supaya mereka bisa punya pengalaman yang menyenangkan selama kuliah di Universitas Airlangga, tapi rasanya saya pesimis (pesimis rahasia). Awalnya 'awang-awang' mau kesana karena lupa kalau ada kelas sore hikz tapi kepalang sudah janji, saya tetap datang ke SCNM setelah kelas selesai dengan mengendarai sepeda motor sendirian,—ditengah kemacetan lalu lalang kendaraan arus pulang kerja—sedangkan yang lain naik taksi uber bersama-sama. Sempat saya mengajak salah satu teman saya dan dia tertarik ikut tapi dia menolak untuk ikut dengan pertimbangan nggak punya uang kecuali saya traktir penuh tiket masuknya (nggggg).

Sesampainya disana, nggak nyangka ternyata dua teman saya sesama best buddies dari UNAIR dan empat orang buddies keturunan India dari Malaysia (bingung kan kamu)
masih di depan penjual karcis. Mereka juga kaget saya datang secepat itu. Padahal saya sebelum berangkat ke SCNM ini sempat mampir ke kos teman di daerah dekat Unair kampus B buat merayu rayu dan nunut salat maghrib. Saya ke SCNM nggak ngebut sumpah.  Hehe biasalah naik motor kan lebih cepet. Buddies saya naik taksi Uber. Tiket masuknya sekarang terusan. Kalau kesini cuman buat foto-foto rugi bangat. Di sini nggak cuman terusan, ada wahana yang harus bayar lagi. Nggak banyak kok, cuma 5 wahana. Tiket masuknya untuk hari Jumat-Minggu itu 80.000 rupiah. Itu berarti sisa hari selain hari hari tersebut diatas tiket masuknya 60.000 rupiah.


Jujugan pertama selalu Museum Suroboyo hehe karena memang tempatnya di depan sendiri. Ini museum sudah saya ceritakan di artikel saya yang pertama kali masuk SCNM. Percayalah, saya menemukan hal yang menarik di Museum Suroboyo setelah mengintip-intip dan memutar-mutar. Maaf sekali, saya nggak sempat memfoto yang dintip dan diputar-putar. Pokoknya ada di sebuah ruangan di dalam Museum Suroboyo yang sepi ini. Sepi tapi sarat kata-kata khas Suroboyoan termasuk yang misuh-misuh. Paling favorit lah bagian yang tulisan misuh-misuh di museum ini. Setelah foto bersama ‘bu Risma’, saya sempatkan menonton teve layar hitam tapi bercahaya biru sebentar saja. Kemudian kami semua berpindah spot. Yeeeee nemu komedi putar yang isinya kuda kuda. Jelas lah, naik komidi putar. Bagus juga buat background foto, nggak ketinggalan, kami ber-selfie!
Jangan tanya ini background selfie nya apa, suka sama filter kameranya wkwk
Nemu dermulen, ini nih yang paling sering jadi spot background selfie orang-orang. Nggak ketinggalan lagi, kami ber-selfie! Rame-rame!

Dulu pertama kali naik ini disini, saya harus membayar dulu untuk sekali putaran. Sekarang mau sampai sepuluh kali putaran ya gratis. Menikmati pemandangan secuil kota Surabaya. Cuma dicuil. Soalnya rumah saya yang nun jauh sejam dari sini nggak kelihatan. Sama sekali. Setelah naik dermulen, buddies saya ini aneh-aneh maunya. Mereka pengen naik wahana paling ekstrim di taman bermain ini. Seumur-umur, bisa dihitung dengan jari berapa kali saya naik wahana ekstrim. Untuk yang paling ekstrim se-taman hiburan. Hoho, saya selalu menolak. Tapi karena semua naik, saya tidak mau sendirian. Jadi ikut naik. Nggak peduli, nggak mau lepas sepatu, nggak mau lepas kacamata. Cuma saya taruh handphone saja di dalam tas yang dititipkan ke masnya supaya aman nggak jatuh. Jangan handphone, please. Handphone pertama yang dibelikan sama Ibuk.
Kalian tahu bagaimana rasanya? Mau mati! Tapi saya senang karena bisa berjerit-jerit saking takutnya. Lupa ya sama tugas kuliah hehe. Mbak-mbak di sebelah kiri saya ayem-ayem saja. Heuh. Kata dia, sudah berkali-kali ingin naik ini wahana tapi ditolak karena hanya dia seorang, teman-temannya tidak mau ikut. Terhitung sepi lho taman bermain ini. Akhirnya keinginan mbak-mbak disebelah saya tersampaikan setelah saya dan buddies saya datang mengabulkan keinginan dia. Rasanya lama sekali. Padahal masnya tadi janji hanya sebentar. Tapi ternyata lama. Berasa lagu.

Oh, ini toh 'Blue Shake' yang katanya wahana paling ekstrim se-SCNM

Nggak cukup di ‘Blue Shake! Wahana ter-ekstrim di taman bermain ini’ teman-teman saya langsung mengarah ke wahana permainan berputar-putar sambil tengkurap. Saya lupa nama wahana permainannya. Saya nggak ikut naik. Ikut melihat saja. Eh ternyata mbak-mbak disebelah saya tadi minta tolong saya jadi objek diam untuk tugas kuliah dia katanya. Jadi saya yang diam, wahana yang saya lihat bergerak. Saya bukan yang diam benar-benar diam seperti dalam ‘Mannequin Challenge’ yang sedang popular belakangan ini, saya malah kepo dan dikepoin kuliah dimana sama masnya yang jaga wahana berputar-putar sambil tengkurap ini (bukan dalam konteks digodain, masnya tanya dengan nada sopan dan bersahabat.) Gimana ya dia bisa dapat kerja disini, apa ada part time ya? Pffft saya butuh pengalaman kerja, dan uang wkwk.
Akhirnya buddies saya yang lain datang menyusul. Semua wahana kami coba. Bahkan saya ikut masuk ke rumah hantu lhoh, biasanya nggak mau (penakut ya, ternyata Katsu sama seperti saya takut masuk rumah hantu sama wahana ekstrim tapi dia lebih berani). Awalnya saya takut, tapi ternyata nggak seram :D karena buddies saya dari Malaysia malah ngelawak di dalam rumah hantu ini. Sudah terbiasa tinggal di rumah hantu kali. 
Sesi foto bersama sebelum masuk rumah hantu


Setelah di rumah hantu, kami menunggu untuk bioskop 360 dibuka. Eh, ada parade! Baru tahu di SCNM ini ada  parade. Pertama masuk bioskop 360, kita akan disambut green screen dan disuruh bergaya sembarang di depan kamera dengan properti yang ada kalau mau. Excited sekali! Berasa artis hollywood dan berharap ada special effect huahahaha. Bioskop 360 ini ceritanya tentang arek Suroboyo. Saya nggak paham sama ceritanya. Skip skip tapi nggak bisa. Bagian akhir, bisa dilihat wajah-wajah berwarna abu-abu yang tadi direkam di ruang green screen. Intinya, jangan berharap banyak kalau kalian nggak di hollywood ya guys!
Setelah bioskop 360, sempat diri ini inginkan naik go-kart. Apadaya go-kart berbayar. Melihat peta, kami tertarik nonton bioskop 4D! Jangan harap ada adegan-adegan atau aktor. Hanya naik kereta naik turun, kursi gerak-gerak, goyang, naik turun, masuk hutan, kecipratan air. Dang. Selesai.
Jujugan paling terakhir kami adalah Museum Art and Wax House, waktunya mengekspresikan jiwa narsis yang terpendam. Semua wahana yang kami masuki gratis semua ya, bukan gratis, tapi sudah termasuk yang bayar lapan puluh ribu di loket. Sudah saya ceritakan ya semua isi wax housenya. Setelah puas berfoto-foto sampai baterai handphone saya habis dan mati lalu nunut foto pakai handphone mbak Nanie - salah satu buddies dari Malaysia, kami langsung pergi mencari makan. Saya nggak mau makan. Ternyata banyak warung di SCNM sudah tutup semua. Sudah larut malam hiks. Untung sudah ijin kalau pulang malam. Ada satu yang masih buka. Serbuuu. Duduklah kami di meja, orang-orang makan, saya langsung menaruh kepala dan tidur sebelum perjalanan jauh tengah malam..
Entah ada acara apa, orang-orang ganteng bule yang tadi kami temui ada di atas panggung seperti panggung Miss-miss atau Duta-duta itu. Ada acara begituan tapi tetep sepi di hari Jumat saat itu. Ramai mas-mas yang lomba itu sih. Sebelum pulang sempat kami ingin bermain wahana panah, tapi belum masuk, sudah dimatikan lampu di wahananya. Sedih wakaka.

Akhirnya kami semua pulang, gils banget main di taman bermain dari habis maghrib jam setengah enam-an sampai taman bermain nyaris tutup di jam 11 malam an. Nggak terasa sama sekali kalau semua wahana dicoba hmmm. Tapi overall menghabiskan waktu bersama Nada, Okta, buddies dari Malaysia Kashtury alias Katsu, Mas Amirul, Mbak Nanie, Mas Zul, Shaktisha, Tushra, Niva adalah waktu yang berharga untuk seukuran buddy seperti saya yang jarang ngajak main bersama. Menyenangkan lah pokoknya. Fun experience with UNAIR banget. Seru begitu ya apalagi pas naik wahana. Takut juga pulang malam sendirian naik motor perjalanan jauh, tapi untung saja Okta mau menemani sampai daerah kampus (yaiyalah dia kos dekat kampus). Jadi separuh jalan sendirian. Sendirian saya akhiri artikel ini. Sampai jumpa di artikel selanjutnya ya~

Selasa, 12 April 2016

-

Alunan lembut mengiringi ketukan pelan yang tidak mungkin terdengar oleh siapapun kecuali si pengetuk tersebut. Tidak ada yang menyadari ketukannya. Alunan tersebut terlalu lembut hingga melenakan si pendengar. Malu. Itu yang dirasakan oleh pengetuk. Sedangkan seseorang di dalamnya hanya berharap ada yang mengetuk pintunya sementara dia tidak menajamkan telinganya. Ia terbuai dalam alunan dan secangkir kopi di meja. Dia duduk dengan memejamkan mata di depan tungku api.

Kepasrahan sudah menyelimuti seseorang di luar pintu. Kedinginan. Mengharapkan kehangatan seperti yang dirasakan orang di dalam ruangan, di balik pintu. Dia terus mengetuk pelan hingga ketukannya menjadi semakin lemah, bersama dengan tangannya yang memucat kedinginan. Berselimut kepasrahan, imajinasinya terus bergerak bebas membayangkan kebahagiaan jika ia terus mengetuk pintu. Ia merasa seperti gadis korek api. Sayangnya, ia bukanlah gadis korek api. Ia hanyalah seorang kedinginan yang sedang berusaha meruntuhkan harga dirinya.

Kamis, 07 Januari 2016

Open Trip ke Banyuwangi: Kawah Ijen - Baluran

Haii, sambutan hangat dari saya  di post yang masih hangaat  hangat sehangat hawa di Surabaya yang selalu bikin keleuussss.

Kali ini saya ingin menceritakan perjalanan liburan saya bersama teman-teman seperjalanan Open Trip Ijen-Baluran yang masih hangat juga.

Jadi saya seperti pengembara. Kurang tidur, jarang tinggal di rumah rasanya. Banyak sekali rencana. Rencana jalan-jalan tentu termasuk di dalamnya. Seminggu lebih baru sampai di Surabaya setelah dari Bekasi mampir ke rumah om sama formasi keluarga lengkap (cuma 4 orang) naik kereta dan merasa seperti Harry Potter di kelas ekonomi, *tsahhh* pagi setelah tahun baru tanggal 1 Januari 2016 kemarin saya cus lagi ikutan open trip ke Banyuwangi bersama para chingu yang sama, yang suka jalan-jalan dari SMA, ehem ituloh yang semua dari kami rela bohong supaya bisa ke Bromo. Padahal masih ingusan juga, sampe kena tilang gara-gara gak punya SIM meski gak jadi. Terima kasih pada alamat yang tertera di STNK hahaha.

Padahal rencananya pengen ke Ranu Kumbolo tapi pada akhirnya tergiur ikutan Open Trip jiahh.

Meeting point ELF yang disediakan pengelola open trip ini adalah di Bungurasih. Kami ber-empat berangkat ke bungurasih dengan menumpang mobil Kiki yang diantar papanya. Enak banget sih, jadinya kan saya nggak perlu naik bis dari JMP  ke Bungurasih seperti rencana B jika papa Kiki gak bisa nganter. Setelah sampai, kami semua peserta Open Trip berasa kencan buta. Selama ini kami berkomunikasi sok akrab dan bercanda lewat jejaring sosial tanpa pernah ketemu langsung. Nggak kenal semua sama pesertanya. Mereka berasal dari latar yang berbeda-beda. Ada yang masih sekolah, kuliah diploma (mungkin hanya saya dan satu teman saya wkwk), S1, S2, sudah kerja, dan yang lain yang nggak saya ketahui. Bahkan tour leadernya juga masih mahasiswa semester 9. Setelah kami semua di-briefing oleh TL, kami berangkat lebih awal dari yang dijadwalkan, kira-kira pukul empat kurang seperempat. Ya, ini pertama kalinya kami ikut open trip. Banyak yang bilang kalau ikut open trip lebih mahal. Tapi kelebihannya, nggak ribet. Tinggal berangkat. Mereka semua yang urus. Cuman bawa perlengkapan pribadi yang diperlukan saja.

Perjalanan demi perjalanan kami lalui dengan ELF eksekutif isi 20 orang ini. Sampai di daerah Bangil, ELF yang kami tumpangi mogok. Kami peserta hanya turun dari ELF dan menunggu penyelesaian dari sopir, TL, dan koordinasi dari program ini. Kira-kira sejam kami menunggu, hingga maghrib.

ELF melaju, saya tidur, sampai dibangunkan teman saya untuk melihat PLTU di Paiton yang terkenal. Ternyata juga tidak jauh juga sampai di RM Utama Raya. Tunggu. Kami semua seketika bernostalgia jaman SMP masing-masing. Karena pada tur perpisahan ke Bali, sekolah kami berhenti di sini juga. 4,5 tahun yang lalu. Perubahan mencolok tentu bisa kami tangkap. Tempat ini semakin besar dan lengkap saja. Teman saya yang katanya lupa menjamak sholat isya senang karena lupa tadi saat sholat maghrib karena mushola untuk sholat di RM ini bagus hahahaha. Kalau saya memang tidak berniat menjamak karena tahu pasti akan berhenti lagi.

Berlanjutlah perjalanan kami setelah makan malam yang menurut saya so-so. Sudah kenyang, lanjut tidur. Nggak kerasa aja tiba-tiba sudah sampai di pos-pos menuju Ijen. Malem-malem dingin dan sepi....
Eh
Pas sampe di tempatnya
Berasa liat terminal
Nggak nyangka ternyata rame banget..
Tapi yaudahlah sih..

Yeheeeyy siap menuju Blue Fire yang katanya cuma ada 2 di dunia :D
Disana ada guide lagi, jadi di Ijen kami punya dua guide. Yang satu laki-laki yang startnya di Ijen, khusus Ijen, satunya lagi ya TL yang start dari Bungurasih tadi.
Kami dibriefing lagi dan berujung pada sewa masker seharga 25rb yang bayar di akhir. Katanya kalau nggak pakai masker nggak bisa liat blue fire dari dekat, minimal 100 m katanya. Takutnya ada bau belerang. Saya yang baru pertama kali naik gunung tentu saja menyewanya. Nah, teman saya yang pecinta alam nih, bimbang. Mau nyewa nggak yaaa.
Tapi kakak TL cewek bilang kalau ada bau belerang kami perlu jongkok karena biasanya bau belerang tidak menyentuh tanah setinggi 90 cm. Nada mereka serius. Sampai bilang, 'tahun kemarin ada juga yang mau ngeliat blue fire, nggak kuat bau belerang terus lemes dan dibawa ke rumah sakit, kira-kira ada 7 orang. Bikin nge-down. Ikutan nyewa deh si anak PA. Padahal kan maunya diantara kami berempat maunya gantian dan patungan biaya sewa masker. Tapi begitulah, jadinya kami semua nyewa juga.
Perjalanan menuju blue fire dimulai pukul 1 malam. Entah menurut pendengaran saya, jalur menuju ijen dibuka pukul 1 pagi. 
Pagi-pagi gelap dan dingin. Dengan senter kami berjalan berombongan 3 km jauhnya. Yah cuman 3 km sih. Tapi kerasa juga kok capeknya. Kalau nggak kuat bisa bilang ke teman lainnya biar ditunggu. Memang harus saling menunggu. Malam benar-benar gelap, dan peserta kan nggak tahu medan jalan. Kan serem. Yah meskipun rame juga sih. Jadi jalur ke kawah ijen itu tidak sesulit jalur pendakian gunung-gunung lain, karena memang seperti tempat wisata, kawah ijen ini sudah ramai dan ada banyak keluarga yang mengajak anaknya ke kawah ijen ini. Kuat sekali, dek! 1 km jalan landai, sisanya menanjak.

Setelah satu setengah jam, sampai juga kami di kawah ijen. Nggak bisa dilihat. Kan masih gelap. Tujuan kami adalah blue fire. Jadi kami turun kawah. Demi apa. Demi blue fire. Kami melewati jalanan berbatu dan rawan terpeleset. Karena gelap, kami tidak bisa melihat samping kiri kanan apakah jurang apakah apa. Kecuali kalau memang tebing bisa buat pegangan atau sandaran *eaaaa, nggak tahu. Kami hanya mengandalkan cahaya senter untuk melihat jalan mana yang bisa kami lewati. Hanya muat seorang pula, jadi kami berbaris. Kadang juga wisatawan harus mengalah pada pekerja tambang belerang yang lewat membawa batu belerang yang terlihat berat menaiki jalan bebatuan yang dibebankan pada bahu mereka. Saya sampai bersyukur, tas carier yang berat dibawakan oleh teman saya, botol aqua yang tadinya membebani tas juga dibawa oleh teman saya yang satunya. Saya hanya membawa senter dan berjalan paling belakang diantara kami berempat. Karena si guide dan rombongan lain sudah tidak terlihat lagi ujung hidungnya. Kami mencari jalan yang sekiranya dilewati banyak orang. Oh iya, ada rombongan dari kami yang tidak ikut turun ke kawah untuk melihat blue fire. Tapi meskipun merasa capek, saya merasa rugi bila tidak melihat blue fire secara langsung. Menakjubkan! Saya suka perjalanan tersebut. Masih jauh juga sih blue fire-nya. Rasanya capek, tapi ngerasa seru juga. Keinginanlah yang membawa saya kesana. Saya malah menikmati rasa letih dan pegal kaki saya demi pengalaman. Sampai dekat blue fire, saya tidak bisa menangkap momennya karena kemampuan dan kamera saya tidak mumpuni. Gelap gitu lho. Untung kami masih nutut untuk lihat blue firenya. Sekalian istirahat. ISTIRAHAT APA. Berdiam diri malah membuat tubuh semakin menggigil. Sifat saya yang nggak sabaran muncul gara-gara kedinginan. Saya sampai mengajak teman-teman saya yang juga merasa kedinginan naik ke atas tanpa menunggu rombongan dan TL. Nggak kuat dingin. Untung masih punya etika buat pamit duluan supaya nggak nyari. Jadilah kami memanggil-manggil gak jelas. Eh ternyata dua TL berada nggak jauh dari kami berlima. Berawal dari sanalah akhirnya TL menyuruh rombongan untuk foto bersama. Setelah itu barulah kami naik bersama-sama. Untung saja. Awalnya ngerasa serem juga, turun aja capek dan jauh, apalagi naik. Dan setelah beberapa saat kami naik, hari semakin terang. Jelas pula pemandangan indahnya. Nggak perlu senter lagi. Kami beberapa kali berhenti untuk berfoto karena pemandangannya memang bagus. Danau di Kawah Ijen yang hijau mulai terlihat. Blue Fire juga menghilang.

AAaaah rasanya perjalanan lebih ringan ketika pagi menjelang. Dingin yang menusuk semakin berkurang. Ada saatnya saya merasa lebih ringan saat naik jalanan berbatu daripada menuruninya. Apalagi saya sudah menyediakan diri saya membawa tas carier yang hanya berisi jas hujan milik empat orang yang tidak terpakai akhirnya, yang daritadi dibawa oleh teman saya si anak PA hehe. Rasanya ringan. Ya, Ringan. Sampai atas, kami di atas Kawah Ijen. Tidak seperti tadi, menuruni kawah. Di atas kawah ijen banyak orang. Wah, ramai sekali. Padahal di foto-foto yang tersebar di internet, terlihat sepi. Mungkin karena liburan kali ya. Liburan tahun baru. Setelah puas berfoto, dan foto bareng rombongan sambil megang banner dan ada tiga peserta tambahan (3 bule, satu berwajah kaukasian, satu bule timur tengah, satu lagi bule asia) tiba-tiba ikutan nimbrung foto bareng hahahaha. Mulailah kami menuruni bukit dan jalan yang tadi malam kami lewati. 3 km jauhnya. Kami berjalan sambil melihat pemandangan yang tidak bisa kami lihat pada hari gelap, dan berfoto-foto tentunya. Kami juga bisa melihat lautan dari atas, selat Bali dan kabupaten Banyuwangi.

Bagian paling nggak enak ya yang pas turun menuju pos ini. Rasanya tas carier di punggung semakin berat dan alih kekuasaan untuk membawa pun berpindah punggung. Rasanya lutut mau copot. Tumit sakit, telapak kaki sakit. Lha, semuanya bertumpu pada kaki. Apalagi kan pas turun menahan. Rasanya lebih baik berlari daripada berjalan. Tapi ya itu susahnya, kalau ada orang di depan susah mengerem karena jalanan yang menurun. Lagian enak jalan sih haha. Kiki yang berlari duluan. Yang tidak kuat bisa naik ojek yang diseret oleh penduduk lokal dengan biaya 200rb turun. 800rb PP. Mereka berteriak, "Gojek!" "Taksi" dan lain-lain. Buset dah, di gunung lengkap bener angkutan umumnya. Kalau saya sih pengennya ada lift atau eskalator aja wkwkwk. Eh jangan ding, ga asik dong ntar.

Sampai juga di pos terakhir yang ramai sekali ini. Sampai-sampai kamar mandi pun antri. Sayangnya pas kami kesana tidak ada air. Nah, setelah teman-teman saya selesai urusannya, airnya ngalir dan akhirnya ada air hahaha. Setelah itu, kami berempat bersama teman baru sesama peserta yang masih kelas 3 SMA mampir di sebuah warung untuk mengisi perut, dan minum teh. Tapi saya hanya minum teh saja padahal biasanya juga sarapan tapi.... males karena sudah dari semalem perut mules hmmm..
Setelah ditunggu-tunggu kok nggak ada orang orang peserta rombongan yang lewat di warung tempat kami singgah, kami menuju ELF akhirnya.
Ternyata mereka semua sudah menunggu. Hanya kami berlima.
Ngerasa gak enak sendiri hmmmm
Alhasil kami berlima merasa bersalah.
Ternyata belum sarapan semua.
Pokoknya sebisa mungkin gak boleh kami datang paling akhir buat masuk ELF.

Setelah melanjutkan perjalanan ke tempat makan, kami semua se-ELF tepar. Menikmati indahnya alam mimpi dan masih belum mandi semua.
Akhirnya kami sampai di rumah makan, dan tempatnyaaaaa membuat kami ingin ke Bali saja. Lha wong kami makan sambil ngeliat pemandangan pulau Bali, ditambah pelabuhan Ketapang memang tidak jauh dari sana. Mengintip sedikit ke bawah sudah bisa melihat jernihnya air laut Banyuwangi. Jadi ingat manusia ikan pas SMP.

Kami semua termasuk TL mandi di rumah makan tersebut. Karena memang banyak kamar mandi di sana. Seperti memang disiapkan begitu rupa hahaha.
Nah, ini tidak termasuk biaya open trip yang telah kami bayarkan sebelum hari keberangkatan. Kami semua serombongan patungan makan di sini.
Saya suka makan di sini sih. Lebih enak dari yang sudah termasuk 2x makan dari trip ini yang rasanya so-so.

Setelah makan, lanjut perjalanan ke Taman Nasional Baluran. Saya lanjut tidur. Sampai di pos depan Taman Nasional ini. Masih masuk lagi ternyata dan jauh lewat hutan yang nggak rindang dan sejuk sama sekali sampai saya tidur lagi hahaha. Kami mampir ke pantai Bama yang masih termasuk area taman nasional ini. Tidak ada yang spesial kecuali pemandangan yang bagus dan cuaca yang panas. pantai Bama juga ramai. Semua tempat wisata yang saya lihat di jejaring sosial yang kelihatannya sepi ternyata ramai juga. Ya, warga butuh hiburan saat liburan. Kami pulang lebih awal juga. Dan tidak melihat sunset juga di Baluran ini. Katanya mbak TL mau lihat sunset :( tapi nggak apa apa sih, kami semua juga ingin cepat-cepat pulang.

Alhamdulillah kami sampai di Bungurasih dengan selamat dan berpisah dengan teman-teman peserta yang lain. Juga tiba lebih maju dari yang ada di jadwal. Kami tiba kira kira pukul setengah duabelas malam dan dijemput oleh papa dan mamanya Kiki.

Saya tidak bisa tidur dalam mobil. Entah kenapa. Sudah kebanyakan tidur di ELP  sih hahahaha.


Sudah, sekian cerita saya kali ini :D